2022 US Economic Outlook: Hope or Disaster for Uncle Sam?

Tahun 2022 agaknya menjadi harapan bagi semua umat manusia untuk lepas dari belenggu COVID-19, tidak terkecuali bagi para pembuat kebijakan Amerika Serikat (AS). Sebab menurut data yang ada, pandemi perlahan-lahan bisa dijinakkan. Usaha dan kerja keras mereka yang berpacu melawan waktu dan mutasi makhluk tak kasat mata itu akhirnya membuahkan hasil. Berdasarkan grafik yang dirilis CDC (Centers for Disease Control and Prevention) atau Pusat Pengendalian Penyakit di AS, kematian kian menurun menuju akhir kuartal keempat 2021 dengan rincian dari 200 ribu kasus dalam sehari menjadi 80 ribu kasus (CDC, 2022). Turunnya angka kematian yang sangat signifikan ini seolah memunculkan semangat dan harapan baru bagi warga AS. Tidak hanya harapan untuk menjalani kehidupan seperti normal kembali, namun juga harapan pulihnya sektor ekonomi AS. Akankah harapan-harapan tersebut dapat terwujud di tengah munculnya varian baru Omicron yang di klaim WHO bisa menyebar lebih cepat?

Sejak Desember 2021 dunia mulai dihebohkan dengan munculnya varian baru COVID-19 yakni Omicron. Varian Omicron menyebar dan menular lebih cepat dari varian yang ada sebelumnya yaitu SARS-CoV-2 maupun Delta (Syafifudin, 2021). Omicron memiliki kemampuan menembus sistem kekebalan orang yang pernah terkena COVID-19 maupun yang telah divaksinasi. Perkembangan tersebut menjadikan varian COVID jenis baru ini menjadi perhatian utama WHO. Menurut laporan CDC terjadi lonjakan 800 ribu orang yang terpapar Omicron per pekan di AS.

Harapan untuk lepas dari COVID di AS sendiri sudah terlihat dari kebijakan dan pernyataan dari pembuat kebijakan AS yang yakin bahwa gelombang COVID tidak akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari AS lagi. Hal ini senada dengan pernyataan Joe Biden yang dirilis oleh VOA Indonesia tepatnya di penghujung bulan November tahun lalu, bahwa warga AS akan aman dari COVID selama mereka sudah melaksanakan vaksinasi dan memakai masker (voaindonesia, 2021). Biden juga menambahkan bahwa pemerintah akan menerjunkan 500 juta paket penanganan COVID kepada seluruh tim medis di negara tersebut (Christyaningsih, 2022). Hal ini menunjukan sebuah keseriusan pemerintah untuk menanggulangi adanya gelombang COVID Omicron yang berasal dari Afrika Selatan tersebut. Selanjutnya Biden juga mengumumkan dalam sebuah konferensi pers yang dilansir oleh ChannelNewsAsia bahwa lockdown tidak akan dilaksanakan kembali (channelnewsasia, 2022). Dengan kata lain, semua kegiatan akan berlangsung sebagai mana biasanya.

Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi semua warga AS. Aktivitas mereka bisa kembali normal dan tentunya harapan yang paling dinanti adalah kembali pulihnya sektor ekonomi terutama pada kembali dibukanya lapangan kerja baru setelah ditutup sekian lama. Dilansir dari Katadata yang merujuk pada publikasi Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan bahwa per Juli 2021 angka pengangguran masih bertengger di angka 8,7 juta jiwa, namun terjadi penurunan sebesar 782 ribu jiwa dari jumlah sebelumnya yang menyentuh angka 9 juta jiwa. Hal ini disebabkan pada tahun 2021 terjadi kenaikan permintaan tenaga kerja pada sektor pendidikan lokal sebanyak 220.700 orang, kemudian bidang pariwisata menyumbang kenaikan 53.000 orang, diikuti oleh sektor manufaktur di angka 27.000 orang, dan yang terakhir sektor ritel yang menyumbang 7000 orang. Bukan tidak mungkin pada tahun 2022 jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan pelonggaran yang dilakukan berkala oleh pemerintah (Katadata, 2021).

Angin segar itu nyatanya sedikit terusik dengan data yang dilansir dari IMF pada awal tahun ini yang menyatakan bahwasanya AS akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dari semula 5.6% anjlok di angka 4%. Disinyalir ini merupakan buntut dari kebijakan build back better di ranah fiskal yang ternyata tidak disahkan oleh senator. Build back better sendiri merupakan paket investasi yang akan disuntikan oleh pemerintah AS senilai US$ 1.75 triliun atau jika dirupiahkan senilai dengan 25 kuadriliun rupiah (Pransuamitra, 2021). Adalah senator asal Partai Republik, Joe Manchin, yang menyatakan tidak akan mendukung paket stimulus tersebut. Disebut-sebut paket tersebut hanya akan memicu hiperinflasi yang akan merugikan masyarakat AS. Pasalnya dilansir dari detikcom per Desember 2021 laporan inflasi AS mencapai ke ranah tertinggi sejak 4 dekade terakhir. Dikhawatirkan inflasi tersebut akan kembali meledak jika paket stimulus tadi dikucurkan oleh pemerintah (detik.com, 2022).

Maka bisa disimpulkan bahwa economic outlook AS akan mengalami deselerasi pada tahun 2022 ini. Ekonomi yang mulai membaik dan diprediksi kembali seperti semula serta pernyataan Biden di awal paragraf tadi nyatanya terancam dengan adanya pertumbuhan korban Omicron. CDC melaporkan per 15 Januari 2022 terjadi lonjakan sebanyak 800 ribu orang yang menjadi korban terpapar per pekan. Kenaikan angka terpapar COVID sendiri sangat memungkinkan perekonomian AS memburuk. Keyakinan untuk bisa melakukan aktivitas normal kembali dan memulihkan kegiatan ekonomi bisa batal terjadi karena kenaikan angka positif yang diakibatkan varian Omicron yang lebih mudah menyebar. Hal ini menimbulkan potensi terjadinya pembatasan pergerakan manusia yang berpengaruh terhadap terganggunya proses produksi dan distribusi. Jika tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin AS terpaksa mengalihkan fokusnya kepada penanggulangan pandemi seperti melakukan lockdown yang sangat berpengaruh terhadap sektor ekonomi.

Jika dikorelasikan dengan realita lapangan, sangat tidak mungkin untuk melonggarkan kembali aktivitas ekonomi seperti semula. Ditambah lagi paket stimulus yang tidak jadi dikucurkan akan sangat berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi AS. Atas dasar inilah penulis berani beropini bahwa Biden nampaknya akan kembali merevisi pernyataan yang disampaikan di akhir tahun lalu dan akan memilih jalur aman dengan fokus membenahi pencegahan COVID terlebih dahulu melalui paket booster vaksin dan pengetatan kebijakan masker sebelum kemudian membenahi sektor ekonomi. Dengan memastikan aktivitas sehari-hari serta aktivitas ekonomi dapat berjalan normal di tengah ancaman varian Omicron, bukan tidak mungkin AS akan mendapatkan momentum untuk mewujudkan harapan pulihnya kembali sektor ekonomi.

Referensi:

CDC. (2022). COVID Data Tracker. Georgia: Centers for Disease Control and Prevention.

channelnewsasia. (2022, Januari 7). Biden defends COVID-19 pandemic response amid Omicron surge. Retrieved from channel news asia: https://www.channelnewsasia.com/world/covid19-omicron-biden-defends-pandemic-response-variant-surge-2429021

Christyaningsih. (2022, Januari 11). Perusahaan Asuransi AS Harus Menanggung Alat Tes Covid Mandiri. Retrieved from republika.co.id: https://www.republika.co.id/berita/r5j93j459/network

detik.com. (2022, Januari 14). Inflasi di AS Tembus Level Tertinggi dalam 4 Dekade. Retrieved from detik.com: https://news.detik.com/dw/d-5897616/inflasi-di-as-tembus-level-tertinggi-dalam-4-dekade

Katadata. (2021, Agustus 7). Sinyal Ekonomi Pulih, Tambahan Pekerja di AS Tertinggi dalam 11 Bulan. Retrieved from Katadata.id: https://katadata.co.id/maesaroh/berita/610fb253eae2e/sinyal-ekonomi-pulih-tambahan-pekerja-di-as-tertinggi-dalam-11-bulan#:~:text=Departemen%20Tenaga%20Kerja%20Amerika%20Serikat,ribu%20menjadi%208%2C7%20juta

Pransuamitra, P. A. (2021, Desember 21). Bring Back Better Tekan Dolar AS, Rupiah Apa Kabar? Retrieved from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/market/20211221091935-17-300797/bring-back-better-tekan-dolar-as-rupiah-apa-kabar

Syafifudin. (2021, Desember 21). Varian Omicron Menggila di Amerika Serikat, Mencapai 73% Kasus. Retrieved from internasional.sindonews.com: https://international.sindonews.com/read/634423/42/varian-omicron-menggila-di-amerika-serikat-mencapai-73-kasus-1640045539?showpage=all

voaindonesia. (2021, Desember 21). Biden Umumkan Upaya Baru untuk Tanggulangi Perebakan Omicron di AS. Retrieved from VoA Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/biden-umumkan-upaya-baru-untuk-tanggulangi-perebakan-omicron-di-as/6364572.html

Faturrahman Arhaby adalah mahasiswa Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Staff Research and Analysis FPCI Chapter UMY. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @arh4by

Leave a Reply

Your email address will not be published.