48 Jam Perang Ukraina: Serangan All Out Rusia, Perlawanan Ukraina, dan Sanksi Berturut-turut dari Dunia

Ilustrasi kerusakan di Ukraina. Foto: CNN

Per Sabtu (26/2) waktu setempat, invasi Rusia ke Ukraina telah berlangsung selama 48 jam. Dalam 48 jam tersebut, telah banyak hal terjadi di dalam dan luar wilayah pertempuran di Ukraina.

Jatuhnya korban tewas, hancurnya alutsista di pertempuran, hujaman kecaman internasional, dan ancaman krisis kemanusiaan mewarnai serbuan Rusia dari utara, timur, dan selatan Ukraina.

Kontekstual telah merangkum peristiwa yang terjadi selama 48 jam terakhir di Ukraina. Semua akan diperlihatkan di dalam artikel ini.

Rusia: Merangsek Masuk, tetapi Hasil Campur Aduk

Invasi Rusia dimulai pada Kamis (24/2) pukul 03.00 dini hari waktu setempat melalui deklarasi “operasi militer khusus” yang diumumkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pergerakan tentara Rusia ke dalam wilayah Ukraina mulai terlihat pada pukul 05.00. Saat itu, roket dan misil Rusia sudah mulai menyerang berbagai pangkalan militer dan kota-kota di Ukraina, termasuk ibukota Kyiv. Hanya beberapa jam setelah pergerakan pertama, tentara Rusia sudah masuk ke region Kharkiv dan Chernihiv di utara Ukraina.

Situasi bertambah kritis ketika Belarus mengizinkan Rusia untuk masuk ke Ukraina melewati perbatasannya dengan Ukraina pada pukul 11.00. Situasi tersebut juga diperparah oleh masuknya tentara Rusia dari Semenanjung Krimea, wilayah yang dikuasai Rusia sejak 2014, sejam kemudian.

Salah satu serangan yang intensif diluncurkan oleh Rusia adalah serangan udara dan rudal ke hampir seluruh wilayah Ukraina, dari region Kharkiv di timur hingga Khmelnytski di barat. Daerah yang relatif paling intensif diserang oleh Rusia adalah Ibukota Kyiv yang telah menerima gelombang demi gelombang serangan udara dan rudal Rusia. 

Dalam 48 jam, Rusia telah menguasai bagian utara Krimea hingga Kherson dan tepi Sungai Dnieper sehingga suplai air ke Krimea dapat dilanjutkan. Rusia juga menguasai zona eksklusi Chernobyl, wilayah yang terkenal akan insiden nuklir Chernobyl. Pertempuran di wilayah tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan bocornya radiasi nuklir yang berbahaya.

Meskipun demikian, pergerakan Rusia mampu dihentikan oleh Angkatan bersenjata Ukraina di sejumlah wilayah, seperti Kharkiv dan Chernihiv, serta harus mundur dari berbagai kota-kota karena serangan balik Ukraina. Penerjunan VDV (penerjun payung) Rusia di Bandara Hostomel juga dihentikan oleh Tentara Ukraina.

Ukraina: Mobilisasi dan Heroisme Melawan Rusia

Merespons invasi Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun mendeklarasikan status darurat militer pada Kamis (24/2) pukul 07.00 pagi waktu setempat untuk merespons tindakan perang Rusia. Dalam status tersebut, jam malam akan diberlakukan di seluruh wilayah Ukraina. Ukraina juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia.

Zelensky juga memerintahkan adanya mobilisasi penuh militer Ukraina dalam 90 hari, termasuk dengan melakukan wajib militer. Sehubungan dengan mobilisasi dan wajib militer tersebut, ia melarang seluruh laki-laki berusia 18-60 tahun di Ukraina untuk keluar dari negara tersebut.

“Mobilisasi wajib militer, komponen cadangan, dan kendaraan yang diperlukan formasi militer Ukraina harus dilakukan sesuai rencana yang ada,” tulis dokumen yang ditandatangani oleh Zelensky pada Kamis (24/2).

Tidak hanya mobilisasi militer saja, Ukraina juga mulai mempersenjatai rakyat dalam rangka membantu tentara menghadapi invasi Rusia. Siaran radio di Kyiv dilaporkan mulai menyiarkan tata cara membuat bom molotov bagi warga sipil.

Berbagai kisah heroisme melawan Rusia telah bermunculan di Ukraina. Di Pulau Zmiinyi, 13 martir Ukraina yang terkenal akan ucapan “go f*ck yourself” kepada kapal perang Rusia dianugerahi gelar Pahlawan Ukraina. Legenda heroisme lainnya adalah “Hantu Kyiv”, penerbang MiG-29 yang telah menjatuhkan enam pesawat dan helikopter Rusia.

Komunitas Internasional: Mengecam, Memberi Sanksi, tetapi Enggan Terlibat Langsung

Komunitas internasional, seperti yang telah diprediksi, bereaksi keras terhadap invasi Ukraina.

“Putin melakukan pelanggaran terhadap prinsip perdamaian dunia,” ujar Presiden AS Joe Biden setelah rapat G7.

AS mengumumkan akan memberikan sanksi yang lebih keras bagi Rusia, kali ini menargetkan oligarki di negara tersebut yang pro-Putin.

Inggris juga bereaksi serupa. “Aku tidak percaya (perang) ini dilakukan atas nama warga Rusia, atau kalian memang ingin mendapatkan status paria akibat perang tersebut?” ujar Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Uni Eropa ikut menjatuhkan sanksi bagi Rusia, kali ini organisasi tersebut setuju untuk memberikan sanksi terhadap oligarki dan perbankan Rusia yang diharapkan akan mematikan 70% aktivitas dan operasional bank di negara tersebut.

Meskipun demikian, komunitas internasional hanya berhenti dengan kecaman dan sanksi saja. Biden menyatakan bahwa AS “tidak akan terlibat dalam konflik dengan Rusia di Ukraina” karena Ukraina belum menjadi anggota NATO.

Implementasi sanksi pun juga belum maksimal karena negara-negara Uni Eropa, meski telah menjatuhkan sanksi keras, belum memiliki konsensus akan hal tersebut. 

Sementara itu, Indonesia menyatakan penolakan akan invasi terhadap Ukraina karena “membahayakan keselamatan rakyat dan mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan dan dunia.” Namun, tidak satu pun pernyataan Indonesia menyebut pihak agresor—Rusia—secara langsung.

Perang Rusia-Ukraina tidak hanya memengaruhi sektor politik internasional saja, sektor ekonomi ikut terdampak signifikan oleh invasi yang ada.

Harga minyak mengalami kenaikan signifikan. Setelah tujuh tahun, harga minyak kembali naik menyentuh $100 per barel. Komoditas lain seperti gandum juga mengalami peningkatan harga yang signifikan.

Namun, tidak ada sektor lain yang paling terdampak selain kemanusiaan. Dalam 48 jam tersebut, Ukraina melaporkan adanya kematian dari 137 warga dan tentara Ukraina. Secara resmi, 17 warga sipil Ukraina meninggal dunia dalam hari pertama invasi Rusia. 316 warga Ukraina juga terluka.

Banyak penduduk Ukraina juga terkena dampak kemanusiaan yang besar. Sebagian besar warga kota panik dan berhamburan masuk ke tempat perlindungan serangan udara, basemen, dan stasiun metro untuk menghindari Serangan udara Rusia. Sebagian besar penduduk Ukraina tidak percaya dengan apa yang menimpa negara mereka selama 48 jam terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.