Lockdown dan Eropa: Pro-Kontra Langkah Eropa dalam Menghadapi Gelombang COVID-19 pada Perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022

Ilustrasi dari FPCI UMY

Liburan Natal dan tahun baru merupakan salah satu momen yang paling penting sepanjang tahun. Karena pada momen tersebut umat Kristen dan Katolik merayakan hari besarnya serta orang-orang menghabiskan waktu libur tahun barunya dengan berjalan-jalan atau berkumpul bersama keluarga. Namun, liburan akhir tahun lalu menjadi terkendala akibat adanya ledakan kasus COVID yang disebabkan oleh varian baru bernama Omicron. Benua Eropa menjadi salah satu yang ikut terdampak atas adanya ledakan kasus yang berpotensi menjadi pandemi gelombang kedua. Waktu liburan yang seharusnya dinikmati bersama keluarga dan orang terdekat menjadi terkendala karena beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah negara-negara di Eropa demi menekan angka kasus COVID. Pemerintah negara-negara Eropa kembali menerapkan lockdown demi memonitor dan mewaspadai masuknya varian baru virus COVID ke Eropa. Meskipun begitu, kebijakan lockdown termasuk wajib vaksin ini sudah diprediksi akan diberlakukan mengingat Eropa yang kembali menjadi pusat dari pandemi global setelah adanya varian baru.

Langkah-langkah pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah negara-negara Eropa dianggap dapat mengurangi kesenangan dari perayaan Natal dan tahun baru bagi banyak orang di Eropa. Salah satunya adalah di Inggris di mana masyarakat disarankan untuk melakukan tes COVID sebelum pergi ke tempat yang ramai seperti jalan raya atau pusat perbelanjaan dan juga tempat tertutup yang ramai di musim dingin ini. Ini adalah pertama kalinya masyarakat disarankan untuk melakukan tes COVID aliran lateral (LFD) terlebih dahulu sebelum bepergian ke tempat berisiko tinggi. Sebelumnya tes LFD sendiri hanya dilakukan sebelum bertemu dengan orang yang rentan terhadap COVID (Merrick, 2021). Pemerintah Inggris meningkatkan upaya untuk mencegah gelombang keempat tanpa perlu memberlakukan rencana alternatif seperti mewajibkan penggunaan masker serta kebijakan work from home. Sementara ini ilmuwan dan menteri percaya bahwa Inggris bisa bertahan melawan gelombang varian baru berkat masifnya pemberian perlindungan terhadap varian Omicron dan Delta berupa vaksin booster.

Sementara itu, Austria menjadi negara pertama di Eropa Barat yang memberlakukan kembali lockdown sejak kebijakan vaksin diluncurkan. Kebijakan lockdown yang mulai berlaku sejak 22 November 2021 ini membantu menurunkan angka kasus COVID yang ada di Austria. Selain itu, Austria juga menerapkan kebijakan lain seperti pada sektor gastronomy yaitu penutupan bar, kafe, toko-toko, hingga hotel pada jam 10 malam. Jerman juga memberlakukan pembatasan yang lebih ketat untuk mengendalikan gelombang infeksi penularan seperti dengan hanya memperbolehkan orang yang sudah divaksin atau orang yang sudah sembuh dari COVID di tempat umum dan memperbolehkan maksimal 10 orang yang sudah vaksin atau sembuh dari COVID untuk bertemu secara pribadi. 

Hal yang sama juga terjadi di Prancis sejak musim panas lalu di mana diperlukan izin kesehatan dengan menunjukkan bukti vaksinasi untuk memasuki berbagai tempat termasuk bar, kafe, restoran, pusat kebugaran, pusat rekreasi, lokasi wisata, dan transportasi jarak jauh untuk bepergian. Aturan masker pun tetap berlaku untuk tempat umum dalam ruangan dan transportasi umum (The Local, 2021). Selain itu pemerintah Belanda juga kembali menerapkan lockdown di mana hanya toko yang menjual barang-barang penting yang diizinkan untuk dibuka. Kegiatan kebudayaan telah dibatalkan dan tempat-tempat seperti museum serta bioskop diperintahkan untuk ditutup. Orang hanya diperbolehkan keluar rumah dengan alasan yang mendesak, seperti untuk membeli kebutuhan atau berolahraga. Sekolah memang tetap dibuka namun pemerintah telah mendesak orang tua untuk menjaga anak-anak mereka di rumah saja jika memungkinkan. Sementara itu, pemerintah Spanyol dan Italia telah mewajibkan pemakaian masker di luar ruangan.

Pembatasan berskala luas yang diberlakukan kembali di Eropa ini memicu protes kemarahan di beberapa negara selama akhir tahun 2021. Kemarahan kemudian berubah menjadi bentrokan yang diwarnai kekerasan dengan polisi di beberapa negara. Austria yang kembali memberlakukan lockdown nasional penuh sekaligus menjadi negara UE pertama yang menerapkan kembali lockdown juga tidak luput dari aksi demonstrasi oleh warganya yang tidak setuju. Aksi ini bisa dibilang sebagai aksi yang kontroversial karena berpotensi menimbulkan kerumunan di tengah bayang-bayang kekhawatiran gelombang keempat COVID yang mematikan. Pengunjuk rasa yang mayoritas berasal dari kelompok sayap kanan berbaris melalui Wina setelah pemerintah Austria mengumumkan lockdown nasional pada akhir November untuk menekan angka infeksi virus corona yang meroket. Sekitar 50.000 orang turun ke jalan selama akhir pekan untuk memprotes kebijakan lockdown serta mandat vaksin nasional yang akan ditetapkan pada Februari nanti. Aksi protes terhadap pemberlakuan lockdown juga terjadi di Swiss, Kroasia, Italia, Irlandia Utara, dan Belanda. 

Akhir tahun 2021 di Belanda diwarnai oleh aksi protes berujung kekerasan seperti yang terjadi di Rotterdam dimana polisi menembaki pengunjuk rasa dan tujuh orang terluka dalam kerusuhan tersebut (Al Jazeera, 2021). Ratusan pengunjuk rasa berunjuk rasa menentang lockdown dan kartu vaksinasi yang diperlukan untuk memasuki restoran, pasar, maupun acara olahraga. Kemarahan memuncak menjadi kekerasan di sejumlah kota di Belanda selama tiga hari berturut-turut pada November 2021. Di Den Haag, polisi menggunakan meriam air terhadap perusuh yang menyerang petugas dengan kembang api dan merusak lampu lalu lintas serta rambu-rambu jalan pada hari Sabtu. Akibatnya lima petugas polisi terluka, salah satunya luka serius. 

Di waktu yang sama, ribuan orang di Brussels, Belgia memprotes persyaratan pemerintah yang mewajibkan setiap orang menunjukkan bukti sertifikat vaksin di tempat-tempat umum seperti restoran. Menjelang malam akhir pekan sekitar akhir bulan November, pengunjuk rasa menghancurkan mobil dan membakar tempat sampah yang memaksa polisi untuk menanggapinya dengan melakukan penyemprotan tembakan air dan gas air mata untuk memulihkan ketertiban (CGTN, 2021). Banyaknya aksi protes terhadap kebijakan lockdown dan vaksin tentunya sangat disayangkan, terlebih aksi-aksi tersebut sangat bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah negara-negara Eropa. Aksi-aksi tersebut justru menimbulkan keramaian yang berpotensi menyebarkan virus dengan mudah, padahal pemerintah negara-negara Eropa telah berupaya menerapkan langkah-langkah yang tegas dan keras untuk mencegah meledaknya angka infeksi COVID. 

Situasi diperparah dengan menyebarnya varian baru virus COVID yaitu Omicron yang menyebar cepat di seluruh Eropa. Varian baru ini mengancam Eropa ditengah semaraknya perayaan hari raya Natal dan libur tahun baru. Para pakar mengatakan bahwa tingkat vaksinasi di Eropa Timur masih terbilang rendah dan ini sangat menghambat untuk mengantisipasi ledakan kasus COVID-19 pasca-liburan akhir tahun di sebagian besar wilayah Eropa. Contohnya baru-baru ini gelombang infeksi COVID banyak muncul di negara-negara Eropa Timur yang membuat negara-negara di wilayah tersebut menjadi salah satu wilayah dengan kematian akibat pandemi tertinggi di dunia (McGrath, 2021). Dengan adanya liburan musim dingin, tentunya masyarakat akan membuat lebih banyak pertemuan dan melakukan perjalanan internasional. Pakar kesehatan masyarakat memperkirakan akan terjadi lonjakan virus yang tajam dalam beberapa waktu pasca liburan Natal dan tahun baru. Oleh karena itu lockdown diperlukan sebagai pencegahan serta awal penanganan dalam rangka mengurangi lonjakan pandemi COVID terutama varian Omicron (McGrath, 2021). Selain pembatasan pergerakan untuk mencegah virus mudah menyebar, diperlukan juga imunitas yang tinggi pada masyarakat agar pertahanan terhadap COVID semakin kuat. Imunitas bisa didapatkan dari vaksin yang sudah diberikan secara masif di negara-negara Eropa. Angka imunitas yang tinggi bisa menjadi faktor penentu dalam keberhasilan melawan COVID.

Spanyol, yang sebelumnya merupakan salah satu negara Eropa yang paling terdampak pandemi COVID-19 pada awal kemunculannya, dapat memberikan contoh bagaimana vaksin dapat berperan penting jika dikelola dengan baik. Pemerintah Spanyol telah berhasil memvaksinasi 80% populasinya. Hal ini juga didukung dengan partisipasi positif dari masyarakatnya yang mana meskipun masker wajah tidak lagi diperlukan di luar, namun masih banyak orang yang menggunakannya. Sementara kasus COVID akhir-akhir ini sedang meningkat secara signifikan di Eropa, salah satu spesialis kesehatan masyarakat terkemuka di Spanyol, Rafael Bengoa, mengatakan bahwa virus tidak akan dapat menaklukkan masyarakat Spanyol lagi karena tingkat vaksinasi yang tinggi. Beberapa negara berharap bahwa peningkatan vaksinasi akan membawa mereka menjadi seperti Spanyol. Langkah Spanyol kemudian ditiru oleh berbagai negara lain seperti Jerman yang akan membuka kembali pusat vaksinasi di seluruh negeri untuk mempercepat suntikan vaksin booster. Prancis juga mengandalkan dosis vaksin booster sambil mendorong mereka yang belum mendapatkan suntikan awal untuk melakukannya (Cusmano, 2021). 

Adanya pemberlakuan Lockdown untuk mengantisipasi lonjakan angka infeksi COVID sebenarnya merupakan langkah yang sangat tepat. Langkah-langkah seperti wajibnya menunjukkan kartu vaksin serta kebijakan Lockdown dilakukan semata-mata untuk menjaga masyarakatnya agar tidak terkena gelombang COVID yang kesekian kalinya di negara-negara tersebut. Negara-negara Eropa memang sudah seharusnya belajar dari kesalahan pada awal masa pandemi di mana negara-negara Eropa telat mengambil keputusan tegas sehingga gelombang infeksi COVID tidak terhindarkan yang membuat segala aspek mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial menjadi kacau. Menetapkan lockdown bisa dibilang merupakan langkah yang logis untuk dilakukan mengingat virus COVID sangat mudah menyebar lewat kontak manusia. Oleh karena itu, membatasi kontak tersebut merupakan langkah yang tepat walaupun mengorbankan kesenangan dan kebebasan pada masa liburan. Ketegasan dan cepatnya reaksi negara-negara Eropa untuk mengantisipasi potensi gelombang COVID ini sudah sepatutnya layak diberikan apresiasi. 

Langkah penerapan lockdown sendiri terbukti membantu pencegahan angka positif COVID di Eropa. Salah satu contohnya adalah yang terjadi di Austria di mana lockdown yang diberlakukan sejak November membantu mengurangi angka kasus baru per 100.000 orang pada 29 Desember 2021 menjadi 188,5 (The Local, 2021). Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pada awal Desember yang menyentuh angka 800. Oleh karena itu seharusnya aksi protes yang terjadi di berbagai negara Eropa yang berujung dengan kekerasan ini sebisa mungkin untuk dihentikan. Aksi protes ini seolah tidak melihat usaha pemerintah untuk menghentikan potensi melonjaknya angka infeksi terlebih pada liburan Natal dan tahun baru ketika orang-orang pasti akan berkumpul ramai-ramai pada tempat terbuka. Memang lockdown membuat aktivitas pada saat Natal dan tahun baru menjadi terhambat dan terganggu, namun tidak ada gunanya menikmati liburan jika setelah itu angka infeksi COVID meledak dan membuat situasi lebih parah dari sebelumnya. Dengan demikian, akan lebih baik jika para demonstran menaati kebijakan pemerintahan yang ada.

Selain itu, negara-negara Eropa juga bisa mencontoh keberhasilan Spanyol dalam menghadapi potensi adanya pandemi musim kedua dengan vaksinasi. Dengan membentengi warganya melalui vaksin, Spanyol diharapkan dapat beradaptasi lebih mudah dan mencegah terjadinya lonjakan angka positif kasus COVID-19 di tengah kemunculan varian-varian baru. Sebagai contoh keuntungan angka vaksinasi yang tinggi adalah pada kasus sepakbola di mana di Inggris berbagai laga sepakbola harus ditunda karena tingginya angka positif sementara di Spanyol pertandingan liga sepakbola masih terus berjalan. Negara-negara lain di Eropa harus mencontoh langkah Spanyol soal vaksinasi ini. Dengan angka vaksinasi tinggi diharapkan potensi adanya gelombang COVID-19 yang disebabkan oleh varian baru tidak benar-benar terjadi.

References:

Al Jazeera. (2021, November 21). Protests Erupt Over COVID Restrictions in Austria, Italy, Croatia. Retrieved from Al Jazeera: https://www.aljazeera.com/gallery/2021/11/21/photos-pandemic-protests-erupt-over-covid-restrictions-in-austria-italy-croatia

BBC. (2021, December 2). Covid: Germany Puts Major Restrictions on Unvaccinated. Retrieved from BBC: https://www.bbc.com/news/world-europe-59502180#:~:text=Germany’s%20national%20and%20regional%20leaders,act%20of%20%22national%20solidarity%22.

CGTN. (2021, November 22). Latest Development on Protests Against COVID-19 Measures in Europe. Retrieved from CGTN: https://news.cgtn.com/news/2021-11-22/Latest-development-on-protests-against-COVID-19-measures-in-Europe-15oX34QmMsE/index.html

Cusmano, J. (2021, November 20). Christmas in Europe is Under Threat from COVID. Retrieved from Travel Daily Media: https://www.traveldailymedia.com/christmas-in-europe-is-under-threat-from-covid/

France 24. (2021, December 25). COVID-19 Clouds Christmas Celebrations for a Second Year in a Row. Retrieved from France 24: https://www.france24.com/en/europe/20211225-covid-clouds-christmas-celebrations-for-second-year-in-a-row

McGrath, S. (2021, December 30). Eastern Europe Preparing for COVID-19 Omicron Surge Amid Low Vaccination Rates. Retrieved from Global News: https://globalnews.ca/news/8479847/eastern-europe-covid-19-omicron-surge/

Merrick, J. (2021, November 22). COVID-19: Christmas Shoppers Advised to Take a Test Before Hitting the High Street or Crowded Retail Centres. Retrieved from inews: https://inews.co.uk/news/politics/christmas-2021-shopping-covid-test-before-high-street-shops-1313597

Murphy, F., & Sheahan, M. (2021, November 23). Austria Locks Down, Merkel Says New Steps Needed as Europe Faces COVID Freeze. Retrieved from Reuters: https://www.reuters.com/markets/stocks/austria-enters-fourth-lockdown-covid-cases-soar-anew-europe-2021-11-22/

Noryskiewicz, A. (2021, November 22). Austria Brings Back COVID Lockdown Amid Angry Protests Across Europe. Retrieved from CBS News: https://www.cbsnews.com/news/covid-europe-cases-austria-lockdown-restrictions-vaccine-mandate-protests/

The Local. (2021, December 31). COMPARE: How Europe is Ending 2021 with Record COVID Rates and New Restrictions. Retrieved from The Local: https://www.thelocal.de/20211231/compare-how-europe-is-ending-2021-with-record-covid-rates-and-new-restrictions/

Gaizka Favian Kevala adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan staf Human Resource Development FPCI Chapter UMY. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @gaizkakevala

Leave a Reply

Your email address will not be published.