Peringati Dua Tahun Pembunuhan Soleimani, Iran Minta Trump Diadili

Ilustrasi Presiden Iran Ebrahim Raisi. Foto: Ali Mohammadi/Bloomberg via Getty Images

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengeluarkan pernyataan keras terhadap mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkaitan dengan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020 lalu. Ia menyerukan agar Presiden AS ke-45 tersebut dibawa ke pengadilan. Jika tidak, Iran akan melakukan “balas dendam.”

Dikutip dari Aljazeera, Raisi menyebut bahwa Trump merupakan “pembunuh dan penjahat utama” yang memerintahkan penyerangan konvoi yang menewaskan Soleimani. Oleh karena itu, ia meminta agar Trump diberikan hukum qisas yang setimpal dengan apa yang ia lakukan terhadap Soleimani.

Jika AS tidak menyerahkan Trump untuk diadili, Presiden Iran tersebut menyebut, “balas dendam akan datang dari tangan umat.”

Tidak dijelaskan bentuk “balas dendam” apa yang akan dikeluarkan oleh Iran. Namun, Iran pernah menggempur pangkalan militer AS di Irak dengan rudal sebagai “balas dendam” beberapa saat setelah kematian Soleimani.

Selain mengancam AS melalui pidato presidennya, Iran juga berusaha melakukan persekusi terhadap Trump melalui mekanisme legal. Kepolisian negara tersebut sebelumnya meminta Interpol untuk menerbitkan red notice terhadap Trump dan sejumlah pejabat AS lainnya. Pengadilan setempat pun membuka kesempatan bagi warga Iran yang ingin menggugat “kekuatan asing” yang terlibat dalam pembunuhan Soleimani.

Soleimani Terus Dikenang

Ancaman Iran tersebut merupakan bagian dari peringatan dua tahun meninggalnya Jenderal Qassem Soleimani. Soleimani adalah panglima Tentara Quds yang berada di bawah Garda Revolusi Iran (IRGC). Di bawah komandonya, Iran berhasil membangun jaringan dengan milisi Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman yang memperkuat posisi geopolitiknya di Timur Tengah.

Namun, karier cemerlangnya harus berakhir ketika Donald Trump memerintahkan pembunuhannya pada 3 Januari 2020 melalui penyerangan pesawat nirawak terhadap konvoinya di Baghdad, Irak.

Sejak kematiannya, Soleimani pun menjadi sosok yang dielu-elukan warga Iran. Poster bergambar wajahnya tersebar di berbagai kota di Iran. Pada tahun kedua kematiannya, Iran bahkan menyelenggarakan program peringatan kematiannya selama seminggu yang diisi oleh nyanyian, pembacaan puisi, pidato, dan pengibaran bendera. Peringatannya pun dihadiri oleh utusan dari sekutu Iran seperti Palestina, Suriah, dan Yaman.

Pengidolaan Soleimani pun juga diakui oleh Raisi. 

Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa Soleimani bukanlah seorang manusia biasa. “Ia adalah budaya, jalan, dan ajaran,” ujar Raisi. “Suatu ajaran tidak akan hancur oleh teror ataupun misil,” tambahnya. Bagi Raisi, Soleimani tidak pernah takut akan kekuatan AS.

Peringatan kematian Soleimani diperkirakan akan berlangsung pada hari Jumat (7/1) esok. Pada hari itu, diperkirakan pemerintah Iran akan menyelenggarakan pameran alutsista untuk memperingati serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS yang menjadi “balas dendam” atas kematian Soleimani.

Tidak hanya pejabat saja yang menyelenggarakan peringatan kematian Soleimani, mahasiswa Iran juga menggelar protes dengan membakar bendera AS di depan Kedutaan Besar Swiss di Tehran yang menaungi utusan diplomatik AS di negara tersebut. Sejumlah peretas pun turut meretas beberapa situs Israel dan memasang ancaman terhadap negara tersebut.

Sampai hari ini, tidak ada respons yang jelas dari AS terhadap tindakan dan gertakan Iran tersebut. Namun, AS sudah sejak lama menyatakan keabsahan serangan terhadap Soleimani. Jaksa Agung AS pada saat itu, William Barr, menyebut bahwa Soleimani adalah “target militer yang sah” untuk diserang.

Dengan kerasnya sikap Iran dan diamnya AS terhadap pembunuhan Soleimani, diperkirakan bahwa kasus ini akan terus menjadi duri dalam daging bagi upaya diplomasi AS-Iran, terutama dalam upaya penanganan krisis nuklir Iran. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menjadi insiden yang mendestabilisasi kawasan Timur Tengah lebih dalam lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.