Ratu Elizabeth Positif COVID-19, Timbulkan Kekhawatiran Suksesi Kerajaan

Ilustrasi Ratu Elizabeth II. Foto: Steve Parsons/AP

Senin (21/02), Istana Buckingham mengumumkan bahwa figur pimpinan keluarga kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II, baru saja terpapar penyakit COVID-19. Ratu berusia 95 tahun ini diduga terjangkit virus tersebut setelah bertemu dengan Pangeran Charles pada tanggal 8 Februari silam yang juga terkena virus COVID-19 pada tanggal 10 Februari.

Istana Buckingham menyatakan bahwa Ratu Elizabeth mengalami simptom “flu ringan” dan dipastikan masih akan menjalankan “pekerjaan ringan” di Windsor dalam beberapa minggu ke depan.

“Beliau akan terus menerima bantuan medis dan akan mengikuti seluruh protokol yang ada,” tambah Istana Buckingham dalam pernyataan resmi.

Dapat dipahami bahwa banyak orang yang berada di Istana Windsor—tempat Ratu Elizabeth berdomisili—telah terpapar oleh virus COVID-19. Salah satu yang terpapar tersebut adalah anak tertua Ratu Elizabeth, Pangeran Charles.

Ketika pengumuman resmi mengenai keterpaparan Pangeran Charles dan Putri Camilla atas COVID-19 diumumkan pada 10 Februari dan 14 Februari silam, hasil tes Ratu Elizabeth II masih belum dipublikasikan. Muncul kecurigaan bahwa sang ratu pun menjadi terpapar setelah ia memilih untuk menjalankan pertemuan secara virtual pada tanggal 15 Februari lalu dengan dua duta besar baru di Inggris. Esoknya, ia sendiri mengakui bahwa ia kesulitan untuk bergerak dan harus ditopang menggunakan tongkat berjalan.

Diperkirakan bahwa Ratu Elizabeth II akan mengonsumsi obat antivirus Paxlovid dan Molnupiravir yang baru disetujui dan dibuktikan mengurangi tingkat kematian secara signifikan. Keberadaan obat ini juga yang diperkirakan membuat Istana Buckingham tidak terlalu khawatir mengenai kondisi kesehatan sang Ratu. 

Pernyataan yang dibuat oleh Istana Buckingham ini amat tidak natural dan menyampaikan pesan yang penuh paradoks akan kondisi kesehatan Ratu Elizabeth II. Publikasi mengenai kondisi Ratu Elizabeth yang positif COVID-19 menunjukkan bahwa isu ini amat krusial. 

Akan tetapi, cara penyampaian yang menekankan bahwa sang ratu masih akan mengerjakan “pekerjaan ringan” seolah-olah menyatakan bahwa kondisi Ratu tidak terancam sama sekali. Padahal, kekhawatiran tinggi ada pada kondisi Ratu Elizabeth II yang sudah berumur 95 tahun dan menunjukkan kondisi kelumpuhan pada kaki kirinya.

Dokter pribadi Ratu Elizabeth II, Sir Huw Thomas, menyatakan bahwa ia akan mengawasi Ratu Elizabeth dengan intensif demi memastikan keselamatannya di pandemi. Ia juga menyatakan bahwa sang ratu telah divaksinasi tiga kali dan hal itu menjadi fondasi yang baik dalam mencegah adanya simptom yang parah pada dirinya.

Kondisi Ratu Elizabeth II baru-baru ini amat kontradiktif dengan penunjukkan “baik-baik saja” dari Istana Buckingham. Baru-baru ini, ia memilih untuk tidak merayakan Minggu Berkabung di bulan November 2021 dan ia juga melewatkan perayaan di Cenotaph untuk pertama kalinya di London sebagai seorang ratu, selain ketika ia berada di luar negeri atau hamil.

Muncul pertanyaan besar mengenai kemungkinan suksesi yang dapat terjadi melihat kondisi kesehatan Ratu Elizabeth II. Permasalahan hadir dari bagaimana penerus keluarga kerajaan seperti Pangeran Charles dilihat tidak populer oleh warga Inggris. 

Setelah 70 tahun dipimpin oleh seorang ratu yang ikonik, akankah Inggris akan melakukan pergantian kepala figur kerajaannya? Ataukah Ratu Elizabeth II benar-benar tidak sesakit yang diperkirakan? Jawaban dari pertanyaan ini tentunya akan menempatkan Pangeran Charles untuk bersiap akan segala konsekuensi yang dapat terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.