Selandia Baru Tolak Kecam Tiongkok, Aliansi Five Eyes Retak

Ilustrasi aktivitas intelijen. Foto: Getty Images

Selandia Baru memutuskan untuk tidak mengikuti langkah anggota Five Eyes lainnya untuk melawan Tiongkok atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukannya terhadap kaum Uighur di Xinjiang.

Aliansi Five Eyes adalah aliansi berbasis intelijen antara lima negara demokrasi berbahasa Inggris yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Britania Raya, Australia, dan Selandia Baru. Aliansi ini amat menonjol di masa Perang Dingin sebagai tempat “bertukar informasi dan rahasia” antar negara, bukan aliansi militer konvensional.

Aliansi ini kini bergerak untuk mengakhiri kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Tiongkok dan setuju untuk menekan Tiongkok, tetapi Selandia Baru memutuskan ketidaksetujuan mereka dengan keputusan pengecaman Tiongkok

Nanaia Mahuta, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, menyatakan ketidaksetujuan Selandia Baru dari penekanan ke Tiongkok. Ia menyatakan bahwa gerakan ini “tidak terasa benar”.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan bahwa memang tindakan Tiongkok “makin sulit dimaafkan”, tetapi mereka memilih untuk melakukan asesmen hubungan mereka secara bilateral.

Media Tiongkok memanfaatkan adanya kontradiksi pemikiran dalam aliansi ini untuk keperluan propaganda.

Tiongkok merupakan pasar tujuan ekspor nomor satu untuk Selandia Baru dan juga tetangganya, Australia. Ekspor Selandia Baru menuju Tiongkok sebesar 30% total ekspor Selandia Baru.

Australia menekan Tiongkok atas kejahatannya dengan melakukan veto investasi Tiongkok di Negara Bagian Victoria mengenai Belt and Road Initiative (BRI), yang juga dilakukan sebagai respons Australia terhadap tuduhan Tiongkok atas kejahatan perang yang dilakukan Australia terhadap Afghanistan. Namun, hal tersebut menciptakan penurunan keuntungan dagang Australia karena sanksi yang diberikan Tiongkok. Contohnya, jumlah ekspor anggur (wine) Australia sendiri turun sebesar 96% akibat sanksi dari Tiongkok.

Melihat kejatuhan yang dialami Australia akibat usahanya dalam melawan Tiongkok, maka makin besar motif Selandia Baru untuk mundur dari usahanya menekan Tiongkok. Pasalnya, Selandia Baru memiliki kedekatan ekonomi dengan Tiongkok meliputi kebijakan yang menghapus tarif barang ekspor Selandia Baru seperti produk susu, kayu, dan daging-dagingan. Kebijakan ini juga meliputi kemudahan akses visa bagi orang Tiongkok yang ingin berkunjung ke Selandia Baru dan bekerja di Selandia Baru .

Tentunya keluarnya Selandia Baru dari kelompok penekan ini merupakan sebuah kekecewaan besar bagi anggota Five Eyes lainnya.

Pasalnya, negara Five Eyes telah menginginkan organisasi mereka untuk berkembang dari sekadar organisasi berbagi rahasia menjadi organisasi yang menekankan demokrasi dan HAM secara internasional.

Usaha transisi mereka mengalami hambatan jika pada akhirnya Selandia Baru memutuskan untuk keluar di tengah-tengah usaha tekanan ini.

Banyak yang mempertanyakan akan kepunahan Five Eyes, tetapi bisa dimengerti bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah politik dan bukan masalah intelegensi.

Kejadian ini menunjukkan sekali lagi masifnya ekonomi Tiongkok yang mampu memengaruhi kekompakan Five Eyes. Di sisi lain, komitmen negara seperti Selandia Baru sedang terhadap HAM dan demokrasi kembali diuji dalam usaha mengecam Tiongkok ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.