Sulit Keluarkan Rusia dari G20, AS Minta Indonesia Undang Ukraina di KTT Tahun Ini

Ilustrasi KTT G20. Foto: Kirsty Wigglesworth/AP

Dalam sebuah pertemuan yang dilaksanakan pada Selasa (22/3), Amerika Serikat dan sekutunya dilaporkan tengah mempertanyakan apakah keanggotaan Rusia dalam G20 dapat tetap dipertahankan pasca serangannya ke Ukraina selama sebulan ke belakang. Dilansir dari Independent UK, penarikan keanggotaan Rusia sejatinya dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan isolasi Rusia di komunitas internasional.

Meskipun demikian, menimbang bahwa usulan untuk menarik keanggotaan Rusia dapat secara langsung diveto oleh negara-negara lain seperti Tiongkok, India, dan Arab Saudi, negara-negara Barat memutuskan bahwa mereka akan menuntut tidak diundangnya Rusia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun ini–alih-alih menyerukan penarikan keanggotaan Rusia. 

Menerjang tuntutan AS dan sekutunya tersebut, Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dian Triansyah Djani, mengatakan bahwa Indonesia akan tetap mengundang Rusia dalam forum internasional tersebut. Dalam sebuah konferensi pers daring pada Kamis (24/3), Djani menyatakan bahwa keputusan ini telah dibuat sesuai dengan prinsip-prinsip presidensi yang berlaku di mana seluruh anggota G20 berhak untuk diundang dalam KTT–tak terkecuali Russia. “Memang kewajiban semua presidensi G20 untuk mengundang semua anggotanya,” tuturnya.

Menanggapi sikap Indonesia ini, Presiden AS, Joe Biden, menyatakan pada Jumat (25/3) apabila Indonesia dan negara-negara lain tetap bersikeras mengundang Rusia, maka Ukraina juga perlu diundang walaupun bukan merupakan anggota G20.

Mengabaikan kecaman Barat dan seruan Biden untuk mengundang Ukraina dalam KTT yang akan dilaksanakan di Bali pada Oktober mendatang, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin masih berencana hadir dalam pertemuan tersebut. “Kehadirannya akan tergantung pada banyak hal, termasuk situasi COVID, yang semakin baik. Sejauh ini, dia (Putin) ingin datang,” ujar Vorobieva dalam suatu konferensi pers. 

Pola Pengulangan Keluarnya Rusia dari G8 Pasca Aneksasi Krimea

Wacana untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotaan grup atau organisasi internasional bukanlah suatu hal yang baru. Pada tahun 2014, pasca aneksasinya terhadap Krimea, Rusia dikeluarkan dari keanggotaan G8 mengurangi keanggotaan klub negara-negara adidaya tersebut menjadi tujuh negara saja. 

Layaknya yang terjadi pada lima tahun lalu, beberapa pejabat negara Asia yang tergabung dalam G20 menerangkan bahwa penghapusan Rusia dari keanggotaan G20 merupakan sesuatu yang mustahil kecuali Kremlin membuat keputusan tersebut secara mandiri. Sebab, prosedur mengenai pencabutan keanggotaan pun selama ini memang tidak dimiliki oleh G20. 

Melihat situasi ini, nampaknya tepat untuk mengatakan bahwa nasib Rusia kini dalam G20 berada di persimpangan hingga konsensus anggota-anggota G20 dapat tercapai untuk menahan atau mengeluarkan Rusia dari organisasi ekonomi global tersebut. Namun, konsensus tersebut tampaknya akan sulit dicapai dengan adanya friksi antara kubu pendukung pengeluaran Rusia yang dipimpin oleh AS dan kubu yang menolak pemecatan Rusia yang diamini oleh Tiongkok dan India. Ke depannya, hal ini berpotensi menghambat efektivitas kerja G20 sendiri dan tentunya memberi tantangan khusus bagi  Indonesia pada masa presidensi-nya tahun ini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.