Demokrasi Tiga Jari di Thailand

Ilustrasi demonstrasi di Thailand. Foto: FPCI UPH.

Simbol salam tiga jari dari film Hunger Games terus mewarnai dunia perpolitikan Thailand selama enam tahun ke belakang. Simbol ini merupakan simbol perlawanan dari masyarakat. Hal ini bukan yang pertama kalinya dalam sejarah Thailand. Sedikit demi sedikit, percikan api pemberontakan muncul di Thailand, tepatnya sejak mantan jenderal Prayuth Chan-ocha kembali berkuasa sebagai perdana menteri melalui pemilihan umum 2014, yang secara luas dianggap hanya sebagai ‘sandiwara’ demokrasi saja. Kali ini, lebih dari 10 ribu demonstran yang dipimpin oleh mahasiswa turun ke jalan.

Seruan politik yang diungkapkan pun semakin tajam, dari yang sebelumnya “pemilu bukan berarti kita kembali ke demokrasi”, menjadi “ganyang feodalisme, panjang umur rakyat”. Masyarakat Thailand sekarang juga sudah berani melawan hukum Lèse-majesté dengan mengkritik monarki. Bahkan, mereka sekarang dengan berani dan terbuka menyerukan seruan yang sebelumnya tabu, yakni menuntut reformasi monarki, meminta konstitusi baru, dan mendorong untuk pemilihan umum kembali dilakukan dengan cara yang lebih demokratis.

Spanduk “Kami tidak akan lagi menjadi debu bagi siapa pun” juga memenuhi jalan, disertai dengan pengibaran bendera nasional dan potret berbingkai emas dari raja dan bangsawan lainnya. Perdana Menteri Prayuth menyatakan bahwa raja meminta hukuman 15 tahun tidak digunakan terlebih dahulu untuk saat ini. Ia turut menegaskan bahwa para pengunjuk rasa telah terlalu jauh melewati batas dalam mengkritik monarki.

Perdana menteri dan pemerintah mengklaim bahwa mereka bersedia untuk memperluas lebih banyak diskusi dengan para pengunjuk rasa. Namun, hal ini ternyata belum sesuai dengan situasi di lapangan, dengan banyaknya pemimpin pengunjuk rasa yang ditangkap. Tiga dari pengunjuk rasa didakwa atas tuduhan melanggar batasan dalam mengorganisir protes sebelumnya, dan beberapa lainnya didakwa karena melanggar larangan darurat Covid-19 pada pertemuan besar. Baru-baru ini, pemerintah memaksa Facebook untuk memblokir sebuah grup beranggotakan 1 juta orang yang mengkritik bangsawan.

Para pengunjuk rasa telah mengirimkan 10 tuntutan inti kepada anggota parlemen oposisi, dan mereka mengatakan akan mengadakan demonstrasi besar lain pada bulan September jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Di sisi lain, Prayuth tampaknya telah membuka telinga mereka kepada orang-orang. Akankah ia mendengarkan? Atau akankah demonstrasi besar lainnya akan kembali berlangsung?

Leave a Reply

Your email address will not be published.