Drama Guru Desa vs Anak Presiden di Pilpres Peru 2021

Pedro Castillo dan Keiko Fujimori yang bersaing dalam Pilpres Peru 2021. Foto: Sebastian Castaneda/Reuters

Pada Minggu (13/06) waktu setempat, Peru sudah memasuki masa akhir penghitungan suara dalam pemilihan presiden tahun 2021. Namun, drama yang terjadi di sekitar Pilpres masih belum juga akhir.

Hingga berita ini ditulis, hasil akhir pemenang Pilpres memang belum dipastikan oleh badan penyelenggara Pemilu setempat, tetapi penghitungan yang ada telah memperlihatkan satu kandidat kuat: Pedro Castillo dari partai sayap kiri Free Peru.

Dikutip dari Aljazeera, dari total 18.8 juta suara yang telah dihitung, Castillo yang beraliran Marxis memimpin penghitungan suara sebesar 50,15 persen, hanya beda tipis sekitar 50.000 suara dari Keiko Fujimori, kandidat dari partai sayap kanan. Namun, suara yang belum dihitung hanya sekitar 16.000 suara, sehingga pemenang Pilpres sudah dapat diketahui.

Merespons hasil tersebut, Castillo pun mengklaim kemenangan atas pilpres Peru. Klaim tersebut pun disambut oleh ucapan selamat dari negara-negara Amerika Latin dengan pemerintah berhaluan kiri seperti Bolivia dan Argentina.

Sebaliknya, Fujimori menyebut bahwa terdapat kecurangan dalam pilpres Peru. Ia bahkan menyewa sejumlah pengacara terbaik di negara tersebut untuk menganulir 200.000 suara di daerah Amazon dan Andes, wilayah miskin yang menjadi basis dukungan Castillo.

Tak ayal, Peru terpecah ke dalam dua kubu antara kiri pro-Castillo dengan kanan pro-Fujimori. Tensi antara pendukung kedua calon pun ikut memanas.

Melihat perpecahan tersebut, Castillo yang sudah mengklaim kemenangan berusaha mengajak masyarakat Peru untuk kembali bersatu. “Rakyat sudah memilih jalannya masing-masing. Jangan ada lagi polarisasi di negara ini. Mari percayakan masalah pilpres ke pihak berwenang dan tidak memperpanjang masalah ini sehingga kehendak rakyat dapat terpenuhi,” ujarnya.

Pilpres Peru kali ini benar-benar memperlihatkan dua sisi negara tersebut yang sangat berbeda: daerah rural pro-sosialis dan daerah urban pro-neoliberal. Hal tersebut juga sangat terlihat dari latar belakang kedua calon presiden terkuat.

Pedro Castillo adalah seorang guru dari wilayah Cajamarca, salah satu wilayah termiskin di Peru, yang ironisnya juga adalah lokasi tambang emas terbesar di Amerika Latin. Berasal dari keluarga petani buta huruf, pria berusia 51 tahun tersebut berhasil mendapatkan tempat di politik nasional setelah memimpin protes guru se-Peru pada 2017.

Sebaliknya, Keiko Fujimori adalah anak dari Presiden Peru 1990—2000 Alberto Fujimori yang divonis atas korupsi dan pelanggaran HAM pada masa pemerintahannya. Melanjutkan peninggalan ayahnya, perempuan berusia 46 tahun itu bertekad membawa kembali Peru ke dalam Fujimorisme yang berorientasi konservatif dan neoliberal.

Tidak mengherankan jika kedua perbedaan latar belakang yang signifikan tersebut menyebabkan panasnya polarisasi politik di Peru. Namun, siapapun pemenangnya, Ia akan segera berhadapan dengan segudang masalah di Peru, mulai dari korupsi hingga penanganan COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published.