Krisis COVID-19 India Memuncak, Eropa dan AS Kirimkan Bantuan

Ilustrasi krisis COVID-19 di India. Foto: AP Photo

Gelombang kedua COVID-19 terjadi di banyak negara, tetapi dampak paling buruk kini dirasakan oleh India. Dengan laporan penuhnya rumah sakit, kekurangan obat, dan kehabisan oksigen, sistem kesehatan India berada di ambang kehancuran.

Krisis di India telah mendatangkan respons dari berbagai negara yang menjanjikan pengiriman bantuan suplai alat kesehatan untuk membantu India memerangi gelombang kedua COVID.

India mengalami krisis setelah adanya akselerasi penyebaran virus COVID-19 yang terjadi dan menyebabkan India membutuhkan lebih banyak peralatan medis dari biasanya.

Dalam 24 jam dari tanggal 24-25 April, India mencatat adanya 349.691 jumlah kasus baru dari infeksi virus COVID-19, dengan 2.767 kematian yang mengikutinya. Jumlah ini adalah jumlah terbesar sejak awal pandemi COVID-19 di India. Jumlah ini merupakan 10 kali lipat dari jumlah 30.000 kasus baru yang dilaporkan pada awal Januari 2021 di India.

Ibukota India, New Delhi, menjadi kota yang paling terdampak dan memanjangkan ketentuan lockdown-nya selama 1 minggu.

Dr. Ritesh Malik dari Radix Healthcare menyatakan, “Kami berada dalam tantangan terbesar yang dihadapi negara kami sejak Pemisahan India tahun 1947. Kami melihat populasi yang rentan terus mencari oksigen, kasur, obat, dan bahkan hal seperti obat paracetamol di kota-kota kecil India.”

Narendra Modi, Perdana Menteri India, menyatakan bahwa India kini sedang dihantam oleh “badai besar” dan menyerukan pada rakyat India untuk tidak menolak vaksinasi.

Pemerintahan Modi telah dikritik karena adanya dugaan ketidaksiapan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Modi dianggap menyepelekan bahaya COVID-19 dan mempolitisasi penyebaran wabah yang terus berlanjut, sementara rumah sakit baru saja kehabisan alat medis setelah menghadapi gelombang COVID-19 pertama.

Amerika Serikat telah memberikan pernyataan bahwa mereka akan mengirimkan bahan baku yang digunakan untuk produksi vaksin Covishield di India untuk membantu akselerasi manufaktur vaksin.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menyatakan melalui sebuah tweet bahwa “Komisi Eropa sedang mengumpulkan perlengkapan dan kebutuhan untuk merespons secara cepat kepada krisis di India.”

Prancis, Inggris, dan Jerman juga menyatakan dan menjanjikan keterlibatan mereka dalam memberikan bantuan cepat. Inggris menjanjikan perlengkapan medis level tinggi dari pernyataan Boris Johnson, sementara Prancis mengirimkan perlengkapan oksigen dan Jerman belum mengumumkan bentuk bantuan mereka. 

Bahkan, Pakistan telah menawarkan perlengkapan dan suplai produk medis setelah Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyampaikan doanya kepada India untuk “cepat sembuh”.

Krisis di India terus berlanjut dan kondisi histeria yang disebabkan di India karena ketidakmampuan akomodasi rumah sakit telah menciptakan kekacauan dan banyak kematian. Bantuan internasional, selain tindakan dari pemerintah India sendiri, akan sangat dibutuhkan dan diharapkan untuk mencegah angka kematian di India terus naik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.