Meninggalnya Ratu Elizabeth II, Adakah Karisma Kerajaan Britania Raya yang Tersisa?

Ratu Elizabeth II di masa mudanya. Foto: Getty Images/Michael Ochs

Saya sedang berdiri menikmati hembusan angin laut Marmara, ketika berita tentang meninggalnya Ratu Elizabeth II mulai ramai di Twitter. Saya yang kala itu sedang bersama kolega pun akhirnya kembali ke kamar hotel dan langsung menyalakan kanal BBC World. Benar saja, operasi London Bridge telah dilangsungkan. Ratu Elizabeth II meninggal, dan langsung digantikan oleh Raja Charles III.

Sepanjang 70 tahun masa kepemimpinan Ratu Elizabeth II, Britania Raya melalui banyak periode masa progresi dan regresi. Tetapi, seperti apa peran Ratu Elizabeth II di Britania Raya yang monarki konstitusional? Bukankah Ratu atau Raja hanya menjadi kepala negara, bukan kepala pemerintahan?

Ratu Elizabeth II: Simbol Stabilitas di Era Modern dan Identitas

Ya, banyak dari kita yang tahu bahwa Ratu Elizabeth II telah memimpin Britania Raya sangat lama, tepatnya sejak Februari 1952, sepeninggalan George VI. Total 70 tahun masa kepemimpinan ini dipenuhi dengan pembangunan Britania Raya pascaperang, masa-masa kesejahteraan di bawah tekanan perang dingin, masa regresi industri, serta era pascaperang dingin yang dihiasi dengan modernisasi teknologi dan krisis finansial.

Dari semua kejadian tersebut, hampir semuanya dilalui dengan pergantian Perdana Menteri. Harold Macmillan, Alec Douglas-Home, dan Margaret Thatcher menghiasi masa-masa pembangunan, kesejahteraan, hingga regresi industri di Britania Raya. Kemudian Tony Blair dan John Major menghiasi masa-masa awal pascaperang dingin, hingga kekuasaan singkat Gordon Brown tergantikan dengan David Cameron yang menandai awal dari kekuasaan Partai Konservatif hingga kini di bawah kepemimpinan Liz Truss.

Dari semua nama tersebut, hanya ada satu kepala negara Britania Raya. Ratu Elizabeth II. Total 15 perdana menteri yang pernah menjabat di bawah kepemimpinan negara Ratu Elizabeth II. Hal ini memberikan kesan dan pesan stabilitas politik yang ada di Britania Raya. Sebuah kesan dan pesan yang akan sulit dicapai jika posisi kepala negara dan kepala pemerintahan diisi oleh orang yang sama, atau jika kepala negara ternyata tidak mampu mengemban tugasnya dengan baik. 

Ratu Elizabeth II memberikan pesan dan kesan ketenangan ketika konflik, regresi industri, dan bahkan situasi buruk lainnya yang melibatkan keluarga kerajaan. Ketika Lady Diana meninggal, misalnya, banyak cerita dan dugaan buruk yang menghiasi keluarga kerajaan. Ia tetap teguh dan tidak menimbulkan kontroversi lebih jauh yang justru dapat merusak citra keluarga kerajaan lebih jauh. Ia mengikuti apa yang diminta masyarakat, yakni untuk menghormati Lady Diana, dengan mengikuti prosesi penguburannya dan memberikan sebuah bungkukan yang menjadi simbol penghormatan terakhir bagi Lady Diana. Tindakan ini diapresiasi masyarakat Britania Raya dengan luar biasa.

Begitu pun ketika Ratu Elizabeth II diketahui oleh masyarakat tidak membayar pajak pendapatan di awal tahun 1990-an. Ia berani mengambil langkah tajam dan kini kerajaan pun turut membayar pajak pendapatan selayaknya masyarakat biasa. Langkah-langkah yang hampir tidak mungkin dilakukan jika Ratu Elizabeth II tidak memiliki kapabilitas strategis dalam menghadirkan stabilitas di Britania Raya.

Tak hanya soal stabilitas, Ratu Elizabeth II juga menjadi simbol identitas. Bagi warga Britania Raya, Ratu Elizabeth II menjadi simbol yang menyatukan. Ratu Elizabeth II mampu menjadi seubah oase identitas di tengah modernisasi dan globalisasi Britania Raya yang membuat banyak aspek dari budaya Britania Raya hilang. Ratu Elizabeth II juga berhasil membuat masyarakat paham bahwa “kerajaan” kini telah kembali menjadi simbol positif yang membuat Britania Raya disegani di seluruh dunia, setelah sebelumnya begitu erat dengan simbol kolonialisme.

Bagaimana Ratu Elizabeth berhasil melakukan perubahan perspektif dalam identitas tersebut? Langkah besarnya adalah ketika Commonwealth kini menjadi sebuah identitas perkumpulan negara-negara yang secara sukarela berkumpul dan berdiskusi, alih-alih menjadi sebuah perkumpulan negara yang terpaksa karena pernah/sedang dijajah oleh Britania Raya. Perubahan aturan ini membuat citra Britania Raya berubah dari sebuah koloni, menjadi sebuah pemimpin dari sekelompok negara tersebut.

Kini, Adakah yang Tersisa dari Karisma Kerajaan Britania Raya?

Dari semua hal yang saya tulis di atas, banyak sekali peran Ratu Elizabeth II yang begitu cerdas mengambil langkah strategis. Hal ini tentunya berkaitan dengan karisma luar biasa seorang ratu yang menjabat dari umur 25 tahun hingga 96 tahun. Ini pun turut membuat beban dan ekspektasi yang sama disematkan kepada Raja Charles III. Mampukah beliau?

Karisma seorang raja dalam Raja Charles III banyak dipertanyakan masyarakat sejak dulu, khususnya ketika kasus Lady Diana dan kontroversi-konspirasi yang mengekor di belakangnya. Seiring menuanya Raja Charles III, banyak juga yang mempertanyakan kapabilitasnya sebagai seorang raja. Mulai dari kondisi kesehatan fisik hingga mental, banyak yang menyangsikan apakah beliau mampu menjadi seorang Raja.

Tetapi dalam 3-4 hari terakhir, banyak opini yang mulai berseliweran tentang bagaimana Raja Charles III mampu memberikan yang terbaik dalam sesi mourning dan prosesi pengangkatannya sebagai seorang raja. Bagaimana Raja Charles III mampu memberikan penghormatan terakhir yang begitu baik kepada ibunya turut meruntuhkan opini negatif dan skeptis kepada beliau.

Tetapi, menjadi Raja yang karismatik dan mampu memberikan stabilitas adalah tanggung jawab setiap hari, bukan hanya saat prosesi. Bagaimana Raja Charles III nantinya di hadapan publik, seperti apa tindak-tanduknya, bagaimana ia menghormati prosesi kerajaan di setiap acara, dan bagaimana ia merespons situasi darurat yang terjadi di masa depan, adalah yang akan menentukan seberapa baik/buruk pandangan masyarakat kepada beliau.

Terlebih, dan mungkin ini yang paling penting, bahwa Ratu Elizabeth II muncul sebagai kepala negara pascaperang dunia kedua. Karisma ayahnya dan dirinya di tengah Perang Dunia kedua, hingga membangun kembali Britania Raya hingga seperti yang kita kenal saat ini, telah menahbiskan posisinya sebagai Ratu yang karismatik. Karisma secara natural telah muncul.

Lantas, apa yang nantinya menjadi pondasi bagi Raja Charles III dalam mengemban karisma keluarga kerajaan? Mampukah beliau hadir di tengah krisis energi dan ekonomi saat ini, dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, dan memberikan ketenangan yang sama kepada publik Britania Raya? Ini yang nantinya akan dijawab oleh Raja Charles III. Hadir, atau absennya beliau, akan menentukan citra dan karisma keluarga kerajaan Britania Raya, yang bisa saja akan menentukan nasib dari keberlangsungan kerajaan Britania Raya itu sendiri.

Hafizh Mulia adalah Managing Director dari Kontekstual. Dapat ditemui di Instagram dengan nama pengguna @hafizhmulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *