Respon Varian Omicron: Penutupan Kembali, Booster, dan Vaksin Baru

Ilustrasi virus Covid-19 varian Omicron. Foto: Reuters

Respon Varian Omicron: Penutupan Kembali, Booster, dan Vaksin Baru

Pada Jumat (26/11) lalu, WHO mengumumkan adanya varian baru virus COVID-19 yang diberi nama “Omicron”.

Varian dengan penamaan resmi B.1.1.529 tersebut dinyatakan sebagai variant of concern. Jenis varian tersebut diketahui menyebar lebih cepat dari varian lainnya, bahkan varian Delta yang menyebabkan gelombang dua COVID-19 di Indonesia.

Tidak hanya itu, vaksin COVID-19 yang telah ada diduga kurang efektif terhadap varian ini, sehingga Omicron ikut mengancam mereka yang sudah divaksinasi secara penuh.

Varian tersebut pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada Rabu (24/11). Karena penyebarannya yang cepat, varian Omicron pun disebut sudah beredar di seluruh provinsi Afrika Selatan. Tidak mengherankan pula jika varian tersebut sudah menyebar ke berbagai benua, dari Eropa hingga Australia.

Publik memang boleh bernapas lebih lega karena varian tersebut dinilai bergejala ringan. Namun, tentu saja COVID-19 akan terus mengancam seluruh lapisan masyarakat dunia, dari anak-anak hingga lansia.

Reaksi Cepat Negara, Dari Larangan Terbang hingga Penutupan Perbatasan

Hanya beberapa jam atau hari setelah pengumuman WHO tersebut dikeluarkan, sejumlah negara di dunia segera memberlakukan pengetatan imigrasi secara besar-besaran. Umumnya, bentuk pengetatan yang ada adalah larangan masuk bagi orang yang berasal dari Afrika Selatan dan sekitarnya serta pemberlakuan karantina.

Dilansir dari CNN, otoritas Prancis melarang adanya penerbangan dari Afrika Selatan, Lesotho, Botswana, Zimbabwe, Mozambique, Namibia and Eswatini ke dalam negara Prancis. Jerman juga memberlakukan larangan serupa, tetapi ikut menambah Zambia sebagai negara dalam daftar larangan terbang.

Selain melarang penerbangan dari dan ke Botswana, Eswatini, Lesotho, Malawi, Mozambique, Namibia, Seychelles, Afrika Selatan, dan Zimbabwe, otoritas Australia juga melarang kedatangan warga asing yang sempat berkunjung ke sembilan negara tersebut dua minggu sebelum kedatangan.

Australia juga membebaskan negara bagiannya untuk membuat aturan perjalanan sendiri. Tasmania, contohnya, melarang setiap orang yang datang dari luar negeri untuk masuk ke dalam negara bagian tersebut, kecuali dari wilayah Pulau Selatan Selandia Baru.

Di AS, Presiden Joe Biden menerapkan larangan kedatangan warga asing dari Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik, dan Malawi. Namun, ia menyebut bahwa tidak akan ada lockdown lagi dan lebih meminta agar warga AS tidak panik, memakai masker, dan mendapatkan vaksin.

Tindakan paling ekstrim datang dari Jepang. Per November 30, Jepang benar-benar menutup perbatasannya untuk seluruh warga asing, baik pelajar internasional, ekspatriat, maupun orang yang ingin mengunjungi keluarganya di Jepang.

Indonesia juga segera menerapkan larangan kedatangan warga asing yang berkunjung ke Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Eswatini, dan Nigeria selama 14 hari terakhir. WNI yang pulang dari negara-negara tersebut diwajibkan untuk karantina selama dua minggu sejak kedatangan.

Antara Booster dan Vaksin Baru

Kemunculan COVID-19 varian Omicron yang ikut menyerang individu yang sudah divaksin juga menyadarkan otoritas kesehatan dunia bahwa vaksinasi masih perlu ditingkatkan lagi.

Meskipun demikian, melihat kekebalan vaksin Omicron terhadap vaksin yang sudah ada, muncul pertanyaan baru mengenai cara paling efektif menghentikan Omicron: suntik booster atatu buat vaksin baru?

Sembari menunggu investigasi keefektifan vaksin, sejumlah pemerintah dan badan kesehatan telah meminta masyarakat untuk menerima vaksin booster. “Untuk menghentikan penyebaran potensial dari varian baru, perlu agar kita menutup celah imunisasi (dengan booster),” ujar Direktur European Center for Disease Prevention and Control (ECDC) Andrea Ammon. Hal senada jug diutarakan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC), otoritas kesehatan di AS, yang merekomendasikan penggunaan booster untuk melawan Omicron.

Namun, sejumlah ilmuwan menyebut Omicron mampu menghindari perlindungan dari vaksin yang ada karena adanya perubahan yang menyeluruh dalam protein spike, bagian virus yang diserang oleh vaksin. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pun menyebut, “tampaknya, Omicron dapat menyebar ke orang yang telah divaksinasi dua kali.”

BioNTech dan Pfizer pun segera memobilisasi sumber dayanya untuk membuat vaksin baru yang dapat mematikan varian COVID-19 terbaru.

Meskipun demikian, penyebaran yang cepat di Afrika Selatan kebanyakan terjadi kepada orang yang belum divaksin. Dengan demikian, penyebaran terhadap mereka yang perlu divaksin perlu diteliti lebih dalam dan menyeluruh.

Kemunculan varian baru ini kembali mengingatkan dunia bahwa pandemi masih berlangsung. Namun, kini dunia telah dapat merespon fenomena ini dengan lebih cepat. Meskipun respon setiap negara berbeda-beda, tetapi semuanya adalah langkah antisipasi dari penyebaran varian Omicron yang lebih luas lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.