Sebulan Lockdown Shanghai, Tidak Ada Akhir Yang Jelas

Ilustrasi seorang tenaga kesehatan di Shanghai ketika lockdown. Foto: Qilai Shen/Bloomberg

Rabu (27/4) ini, Shanghai akan memasuki masa satu bulan karantina sebagai bagian dari strategi bebas COVID-19 Tiongkok. Jika hingga tahun lalu kota tersebut hanya menerapkan karantina lokal per beberapa ratus penduduk dalam satu kompleks rumah tinggal, kini Shanghai menerapkan karantina seluruh kota untuk pertama kalinya setelah 400.000 kasus dideteksi pada akhir Maret tahun ini.

Di area yang paling berat terinfeksi, otoritas setempat Shanghai segera memerintahkan penduduk di kawasan terkait untuk mengosongkan bangunan tempat tinggal mereka. Sementara pasien terinfeksi dievakuasi ke pusat karantina 160 km jauhnya dari kota tersebut, masyarakat sisanya dipindahkan ke kota-kota tetangga untuk tinggal di sana selama setidaknya seminggu. Di kota kecil Beicai, setidaknya 1000 orang telah meninggalkan rumah mereka sementara pemerintah mendisinfektasi kota tersebut dan area sekitarnya.

Frustasi Masyarakat Akibat Ketidakpastian Lockdown

Karantina wilayah seharusnya berlangsung hanya lima hari sesuai pengumuman awal pemerintah Shanghai, tetapi kebijakan ini terus diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas. Akibatnya, masyarakat mulai kesulitan mendapatkan bahan makanan. 

Dilansir dari BBC, Will Liu, 28, memesan dua potong daging babi dengan harga 400 Yuan atau setara 883.000 rupiah hanya untuk menemukan daging tersebut berada dalam kondisi busuk. Sejumlah unggahan media sosial menyuarakan kesulitan yang sama, di antaranya adalah keluhan akan stok hasil bumi yang mulai membusuk dan persaingan membeli bahan makanan di layanan daring.

Sebagian masyarakat Shanghai akhirnya terpaksa mengonsumsi sayur-mayur yang sudah tidak layak, sementara sebagian lainnya mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Di beberapa tempat, penduduk dalam satu komunitas lingkungan membeli makanan secara kolektif untuk mendistribusikannya bersama. Selain itu, banyak orang mulai berinovasi dengan membeli alat pompa pijat untuk membeli kebutuhan pokok secara cepat dan masif lewat pelayanan daring.

Bagi mereka yang terinfeksi, keadaan di pusat karantina juga tidak lebih baik. Kendati telah dipindahkan, seorang pekerja domestik mengeluhkan bahwa suplai dari pemerintah di fasilitas karantina sebelumnya hanyalah “dua wortel, satu labu busuk, dan dua jagung”. Dari tempat tersebut, hanya 100 orang yang dipindahkan ke rumah sakit sementara yang lebih layak. Di tengah kondisi fasilitas kesehatan yang mulai kesulitan bertahan, petugas dari pemerintah setempat membantah klaim bahwa 8000 orang telah terdeteksi positif COVID-19 dan bersikeras bahwa jalan tercepat untuk kembali ke kehidupan normal adalah dengan ‘bekerja bersama-sama’.

Mengapa Tiongkok Masih Melakukan Lockdown?

Dengan karantina yang justru berpotensi mengancam kesejahteraan hidup, banyak orang mulai meragukan strategi seratus persen bebas COVID-19 yang diusung Tiongkok.  “Saya pikir sangat konyol mengerahkan semua sumber daya untuk mengatasi virus yang mirip flu ini. Ketika seharusnya pemerintah mendengar pendapat ilmuwan, di negara ini para ilmuwanlah yang justru mengikuti pemerintah,” sebut Zhang Le, seorang profesor asal Tiongkok yang menggunakan nama samaran.

Terlebih lagi, varian Omicron yang mudah menular tetapi lebih ringan kini telah membuat sejumlah negara merelaksasikan pembatasan alih-alih mengencangkannya. Berbagai negara di Eropa dan Asia, misalnya, telah mengangkat restriksi dan mempersingkat masa karantina, bahkan meskipun infeksi masih tercatat setiap harinya. Sebaliknya, kecuali di Selandia Baru, strategi eliminasi hampir tidak pernah berjalan efektif akibat potensi dampak yang lebih mematikan daripada virus itu sendiri. 

Dengan keadaan ketidakpastian lockdown yang berkepanjangan, tidak hanya di Shanghai tetapi juga di penjuru Tiongkok lainnya, masih belum ada akhir yang jelas dari kebijakan bebas COVID-19 di Tiongkok. Sementara itu, negara-negara lainnya sudah tidak menerapkan lockdown dan beradaptasi dengan COVID-19. Cepat atau lambat, pemerintah Tiongkok harus segera mencari jalan keluar dari kebijakan bebas COVID-19 yang mereka buat sendiri. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.