Terpecah Respon Ancaman Rusia, AS Serukan Persatuan NATO

Menlu AS Antony Blinken mengunjungi Kiev. Foto: Associated Press

Kamis (20/1), dengan adanya ancaman serangan Rusia ke Ukraina yang makin serius, NATO juga dituntut untuk dapat memberikan respon yang koheren. Seluruh pihak dalam NATO kini dihadapkan dengan perdebatan kemungkinan aksi lanjutan Rusia dan bagaimana mereka akan meresponnya.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyampaikan melalui konferensi pers bahwa Biden pasti akan melakukan sesuatu dengan kondisi yang ada. Kondisi yang ia maksud adalah sekitar 100.000 pasukan yang diposisikan dekat perbatasan Ukraina. Walau begitu, Biden menyampaikan bahwa Rusia tidak akan melakukan invasi berkelanjutan karena menurutnya hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi mereka. 

Pernyataan ini kemudian diklarifikasi oleh sekretaris pers White House, Jen Psaki, bahwa AS akan tetap melawan segala gerakan invasi yang dijalankan Rusia, sebesar atau sekecil apapun.

Dalam konferensi pers tersebut, Biden menyatakan sebuah kalimat yang menyatakan adanya diskrepansi mengenai respons yang tepat akan adanya inkursi dari Rusia.

“Lain ceritanya jika hanya inkursi kecil, kami kemudian akan berargumen lagi mengenai apa yang dapat kami lakukan, apa yang tidak dapat kami lakukan, dan seterusnya.” Sebut Biden menanggapi respons NATO akan inkursi Rusia.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat di dalam NATO mengenai apa yang akan mereka lakukan jika Rusia hanya melakukan inkursi.  Biden menunjukkan bahwa NATO masih belum dapat bersepakat terkait respon mereka terkait inkursi, dan mungkin juga invasi.

Ungkapan yang tampaknya disengaja tersebut juga mengindikasikan retakan di NATO yang diakibatkan kepentingan dan orientasi yang berbeda dari negara-negara anggotanya.

Biden menyatakan bahwa Vladimir Putin, Presiden Rusia, sekarang ini sedang berusaha menguji negara barat berupa AS dan NATO. Dia mengingatkan pada dunia bahwa ada hukuman dan bayaran besar yang datang dengan aksi seperti itu.

“Dia akan melihat sanksi yang belum pernah dilihatnya jika bergerak lagi.” Ancam Biden terhadap Putin.

Biden menyatakan bahwa NATO dan AS masih berusaha melanjutkan negosiasi dan menyelesaikan konflik ini melalui jalur diplomasi, yakni dengan pembicaraan di Jenewa melalui pertemuan Anthony Blinken dan Sergei Lavrov Jumat esok hari.

Terhadap perpecahan NATO tersebut, Biden menekankan bahwa mereka harus bersatu dalam menghadapi ancaman Rusia. Biden juga telah mengirimkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke Ukraina, sebelum bertolak ke Jenewa.

Anthony Blinken telah melakukan pemberhentian di Kiev sebagai simbol solidaritas pada turnya di Eropa dan akan berhenti di Jerman pada kesempatan berikutnya untuk memastikan persatuan kubu NATO di Eropa. Setelah berekonsiliasi di Jerman, Blinken berencana untuk bertemu dengan perwakilan NATO di Prancis juga sebelum pada akhirnya bertemu dengan Sergei Lavrov, Menlu Rusia, di Jenewa.

Ancaman Rusia yang semakin nyata menjadi satu lagi tantangan bagi persatuan NATO. Meski pertemuan di Jenewa masih membuka jalur dialog, tetapi respon yang koheren terhadap gerakan militer Rusia selanjutnya sudah harus dipastikan segera. Respon NATO dalam waktu dekat akan memengaruhi dinamika di Eropa salam jangka yang jauh lebih lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.