Badai Krisis Seperti yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya

Ilustrasi krisis. Foto: pixabay.com

Tahun 2018 yang lalu, saya menulis sebuah artikel yang mewanti-wanti potensi krisis Indonesia di tahun 2019. Argumen saya saat itu sederhana. Krisis politik dan ekonomi di dalam dan luar negeri menunjukkan masa depan yang semakin tidak menentu. Tahun 2019 akan menjadi tahun yang berbahaya, dan saya tidak mengharapkan itu terjadi.

Alhamdulillah, tahun 2019 kita tidak sampai jatuh ke kubangan krisis. Tapi tahun baru 2020 tidak kalah dalam membawakan berita buruk. Di pekan pertama, kita sudah menyaksikan kebakaran paling parah dalam sejarah Australia, banjir dan curah hujan tertinggi dalam sejarah Jakarta, hingga penyebaran virus Covid-19 yang sedemikian cepat.

Dua kejadian pertama telah selesai ditangani, karena dukungan besar dari kondisi alam yang melunak. Tetapi, penyebaran Covid-19 justru semakin parah. Kini, tidak ada lagi satu benua di bumi yang tidak dijangkiti virus ini, kecuali Antartika (tapi, siapa pula tinggal di sana? Hanya penguin!).

Virus Covid-19 ini menyebar dalam pertumbuhan eksponensial. Artinya, jumlah manusia yang terinfeksi mengalami penggandaan dalam waktu yang semakin lama semakin singkat. Tidak ada satu pun negara yang benar-benar siap menghadapi wabah ini. Pun, tidak ada seorang pemimpin pun yang punya pengalaman dalam menangani kejadian wabah yang separah ini. Para pemimpin di setiap negara melakukan try and error untuk mencari formula yang paling tepat. Tidak ada sebuah formula yang one size fit all dalam kondisi yang mencekam seperti saat ini.

A Crisis Like No Other

Ya, saya membuka judul tulisan ini dengan A Crisis Like No Other. Sebab, jika kita benar-benar jatuh ke dalam krisis dalam waktu dekat, kita akan menghadapi peristiwa yang belum pernah ada dalam sejarah manusia.

Mengapa demikian? Saya akan coba uraikan dengan sederhana.

Kita berada pada kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih akibat krisis tahun 2008-2009 silam. Pun, kondisi perekonomian Indonesia yang juga belum kembali pada keadaan seperti sedia kala setelah krisis 1997-1998. Ini adalah dua kondisi yang menjadi latar belakangnya.

Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, kondisi ekonomi global dan nasional pun tidak bisa dikatakan sehat. Pada level global, ketegangan antara Amerika Serikat dengan China, yang tentunya turut membawa para negara periferi masing-masing, telah menyebabkan Perang Dagang (Trade War). Dampaknya jelas terasa. Mulai dari perpindahan industri manufaktur milik perusahaan Amerika Serikat ke dalam negeri atau ke negara lain di kawasan, hingga perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi global.

Di level nasional pun kita sedang mencari formulasi kebijakan ekonomi yang lebih tepat. Era commodity boom telah usai. Pasar kelapa sawit beserta produk turunannya terpukul oleh kebijakan sepihak dari Uni Eropa. Konsumsi dalam negeri, yang selama ini menjadi penyokong utama PDB, mengalami pelemahan. Akibatnya, industri retail mulai berguguran sejak 2017 silam. Rupiah juga melemah pada kondisi terparah sejak krisis 1998, sebelum rekornya dikalahkan beberapa hari yang lalu.

Ini dua kondisi yang terjadi sebelum pandemi menyerang.

Akhir tahun 2019, para dokter di Wuhan menemukan adanya penyakit yang tidak dikenal sebelumnya. Respon pemerintah cenderung abai di awal. Akibatnya penularan penyakit ini berada di luar kendali. Ribuan orang positif terserang virus anggota baru keluarga Corona, yang di kemudian hari dinamakan Covid-19. Masifnya migrasi manusia ke berbagai tempat di seluruh dunia ikut membantu penyebaran virus ini. Sebab, sebagaimana umumnya virus, dia hanya bisa hidup di dalam inang makhluk hidup. Perpindahan manusia yang mengidap virus ini sama saja dengan perpindahan virus itu sendiri.

Tanggal 1 Januari 2020, ini baru wabah lokal dengan ratusan orang yang terinfeksi. 30 Januari 2020, World Health Organization mengumumkan bahwa virus ini telah menjadi perhatian global, seiring dengan lebih dari 8 ribu orang yang terkena. Pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua orang penderita pertama dari Indonesia.

Tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan status pandemi global dengan lebih dari 125 ribu orang penderita. Sampai 23 Maret 2020, sudah ada lebih dari 378 ribu orang di seluruh dunia yang positif terinfeksi virus Covid-19, dengan 579 di antaranya di Indonesia.

Tingkat kematian akibat virus ini di dunia berada pada kisaran 3-4%. Tetapi di Indonesia, karena tes masif belum sepenuhnya berjalan, sudah lebih dari 8% rasio fatalitasnya. Angka yang secara statistik kecil, tetapi akan menimbulkan luka mendalam bagi keluarga hingga sejawat yang ditinggalkan.

Ini adalah krisis kemanusiaan.

Apa yang kemudian lebih buruk dari kondisi ini? Krisis ekonomi berada di depan mata.

Ekonomi global ditopang oleh dua pasak utama, yakni arus perdagangan dan arus keuangan. Akibat wabah ini, kedua pasak ini terguncang di tengah kondisi yang—seperti sudah disebut di awal—rapuh.

Arus perdagangan global merupakan titik pertemuan antara permintaan dengan penawaran barang dan jasa di level global. Penawaran dapat terjadi apabila terjadi produksi.

Masalahnya muncul ketika wabah Covid-19 memaksa pihak mana pun untuk berdiam di tempat tinggal masing-masing demi memutus mata rantai penyebaran. Hal ini juga diinstruksikan oleh banyak pemerintahan, baik di level lokal maupun nasional, untuk melakukan karantina wilayah, atau yang lebih kita kenal dengan istilah lockdown. Praktis, di daerah yang menerapkan lockdown, kegiatan industri mesti dihentikan. Proses produksi pun tidak terjadi. Ketika produksi tidak terjadi, maka barang yang diperjualbelikan pun tidak ada.

Bagi kegiatan yang berjalin dalam global supply chain, tentu efeknya tidak hanya terasa di level lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional. Seperti pada industri kendaraan bermotor dan barang elektronik.

Di bidang jasa, banyak perusahaan menerapkan kebijakan kerja dari rumah, alias work from home (WFH). Entah untuk sebagian atau bahkan seluruh karyawan. Kebijakan ini, sedikit banyak, menurunkan produktivitas para pekerja. Selain itu, efek domino akan terasa di sektor lain yang menjadi penopang kegiatan kerja. Mulai dari pedagang makanan di kantor, pengemudi transportasi umum, hingga penjaja dagangan keliling.

Ini baru dari sisi supply. Bagaimana dari sisi demand?

Permintaan jelas akan menurun, kecuali di bidang pangan dan medis. Di tengah kondisi seperti saat ini, jelas-jelas masyarakat akan mengetatkan konsumsi. Selain memang sulit untuk pergi berbelanja, ketidakpastian ekonomi akan berpengaruh pada siklus keuangan perusahaan, yang tentu saja mengancam pemasukan karyawan. Masyarakat yang bekerja di sektor informal juga akan terkena dampak yang cukup parah. Maka, tidak ada cara lain untuk tetap bertahan, selain benar-benar menyeleksi pengeluaran pada kebutuhan yang benar-benar penting. Pada tingkat rumah tangga, mereka akan fokus pada kebutuhan survival, yakni pangan. Sementara itu, karena di rumah sakit para tenaga kesehatan berjibaku merawat para pasien Covid-19, di samping penyakit lainnya, kebutuhan terhadap alat kesehatan hingga obat-obatan akan meningkat. Meski, peningkatan ini berada di bawah bayang-bayang pasokan yang tidak menentu, karena sisi supply yang juga tengah terganggu.

Sektor keuangan juga akan terdistrupsi. Banyaknya perusahaan yang tidak melakukan produksi akan menurunkan pendapatan secara drastis. Bukan karena barang yang tidak laku, tetapi karena memang tidak melakukan produksi. Jika kondisi ini terus menerus terjadi dalam beberapa bulan ke depan, tentu ada ancaman pada pihak perbankan dari perusahaan yang tidak mampu membayar hutang kepada pihak perbankan. Jika gagal bayar ini terjadi serempak tanpa intervensi pemerintah, maka dampaknya akan sistemik dalam sistem perbankan nasional. Seperti pada saat krisis 1997 silam di Indonesia dan tahun 2008 di Amerika Serikat.

Di level internasional, kita menyaksikan jantung transaksi keuangan global mengalami lockdown akibat virus ini. Dari New York hingga London, pemerintah setempat menerapkan kebijakan karantina wilayah. Tentu saja, jantung pasar uang global akan terganggu detaknya.

Interkoneksi ekonomi antartempat di dunia akan mempercepat dampak dari terguncangnya pasak arus perdagangan dan keuangan. Semakin besar keterhubungan dalam jaringan global dari satu tempat yang terguncang, maka magnitudonya akan semakin besar. Guncangan pada pasar Asia dan keuangan di Eropa akan berdampak pada perekonomian di seluruh dunia. Meski hari ini belum terjadi, tidak ada yang pernah tahu pasti akan hari esok.

Ini adalah ancaman krisis perekonomian.

Tidak Ada Jalan Keluar yang Mudah

Ya, ini adalah ancaman tentang kondisi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, modal satu-satunya yang kita punya untuk menghadapi masalah hari ini adalah pelajaran dari akumulasi pengalaman masa lampau. Sayangnya, sejarah spesies kita belum pernah menghadapi kondisi kombinasi krisis kemanusiaan dengan krisis keuangan sedahsyat hari ini. Sebuah kenyataan yang cukup pahit, memang.

Wabah besar dalam sejarah terakhir yang kita hadapi adalah Flu Spanyol tahun 1918. Kondisinya, dunia baru usai PD 1, sehingga kondisi politik dan ekonomi sedang berantakan. Korban jiwa dari wabah flu tersebut diestimasikan mencapai 50 juta jiwa. Populasi global saat itu masih kurang dari 2 milyar jiwa. Konektivitas antartempat juga masih terbatas, karena transportasi massal baru ada kereta api dan kapal laut. Pesawat hanya digunakan sebatas pada kebutuhan militer.

Hari ini, kondisi kita jauh berbeda. Populasi global sudah lebih dari 7 milyar jiwa. Konektivitas antartempat secara fisik sudah sangat erat, dengan penerbangan antarbenua menjadi hal yang lumrah setiap harinya. Meskipun, teknologi informasi dan inovasi di bidang medis hari ini juga sudah jauh lebih mapan dari keadaan seabad yang lalu.

Artinya, faktor risiko hari ini memang jauh lebih besar, dengan tingginya populasi dan konektivitas, tetapi faktor peluang juga lebih besar, dengan arus informasi dan teknologi kedokteran. Maka, bisa katakan bahwa di tengah kekalutan hari ini, ada secercah harapan yang semoga saja tidak hanya sekadar mimpi.

Tetapi, bagaimana dengan ancaman krisis perekonomian? Bisakah kita menghindarinya?

Kemungkinan bisa memang pastilah ada. Tetapi rasa-rasanya, ketika kita harus mengutamakan dahulu penyelamatan manusia dari krisis ini, melambatkan sedikit pertumbuhan ekonomi untuk sementara waktu menjadi tidak terlalu bermasalah.

Bagi Indonesia sendiri, kita memang secara realistis akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Tidak lagi di atas 5%, bisa di antara 3-4%. Atau bahkan, seperti yang disampaikan Sri Mulyani beberapa waktu lalu, ada kemungkinan terburuk pertumbuhan 0% alias tidak ada pertumbuhan. Tetapi ini setidaknya lebih baik daripada kita malah minus, yang juga merupakan suatu kemungkinan yang bisa saja terjadi di tengah ketidakpastian yang sangat nyata.

Di tingkat global pun tidak jauh berbeda. Berbagai lembaga internasional telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, bahkan bersiap jika memang tidak ada pertumbuhan sama sekali. Begitu pula negara-negara kekuatan ekonomi global, semuanya terdampak wabah ini. Cina menjadi episentrum, lalu ada pula AS dan Eropa yang baru mulai menanjak penderita penyakit akibat virus Covid-19 ini. Ini benar-benar masa yang sulit.

Dar’ul mafasid muqaddamu ‘alaa jalbil mashalih. Pencegahan terhadap kerusakan yang mungkin terjadi harus diutamakan dari mengambil kemaslahatan yang juga mungkin terjadi. Demikian saya pernah pelajari salah satu materi ushul fiqh dahulu. Saya kira, ketika kita menghadapi kondisi krisis seperti hari ini, kaidah ini bisa diterapkan. Kita mendahulukan untuk menghindari kerusakan pada nyawa manusia, dengan kompensasi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi bisa kita tunda hingga kondisi kembali normal nantinya.

Ini pilihan berat, memang. Apalah lagi pertumbuhan ekonomi menjadi indikator paling mudah bagi justifikasi suatu pemerintahan. Meski demikian, kita pun perlu memikirkan lagi jika memaksakan pertumbuhan ekonomi tetapi harus merelakan trade off berupa hilangnya banyak nyawa manusia. Karena toh, pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi itu merupakan means (alat), bukan goals (tujuan). Alat untuk menghantarkan manusia pada kondisi yang lebih sejahtera, bukan menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan atas segala sisi kehidupan.

Begitulah kiranya keterbatasan kita pada kondisi krisis ini. Yes, it’s an unprecedented crisis, and there’s no a simple yet certain way to get out from this crisis. Semoga badai segera berlalu, mentari kembali bersinar, dan kehidupan kembali normal.

Farhan Abdul Majiid adalah lulusan sarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Bisa ditemui di media sosial dengan nama pengguna @famajiid.

1 thought on “Badai Krisis Seperti yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.