Cepat atau Lambat, Putin akan Kalah

Ilustrasi Presiden Putin. Foto: Atlantic Council

Invasi militer Rusia ke Ukraina telah berlangsung cukup lama, namun intensitas konflik masih belum juga menurun. Di balik itu, Vladimir Putin menjadi salah satu aktor yang cukup alot untuk mau melaksanakan dialog perdamaian. Putin memang dicitrakan sebagai pemimpin yang tegas, gagah sekaligus cerdas, namun bila diperhatikan lebih jauh, saat ini Putin sedang menghadapi semacam ‘jalan buntu.’

Hanya berandalkan nyali, keputusan-keputusan Putin dipenuhi dengan miskalkulasi yang akan berujung pada kekalahannya sendiri. Secara garis besar, setidaknya ada dua alasan utama yang melandasi argumen mengapa cepat atau lambat, Putin akan kalah dalam konflik Rusia–Ukraina.

Perlawanan Ukraina

Saat merancang invasinya ke Ukraina, Putin tentu telah mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. 

Pertama, jelas ia tahu bahwa secara kualitas dan kuantitas, militer Rusia jauh lebih unggul daripada militer Ukraina. Secara keseluruhan, Rusia memiliki sekitar 900.000 personel militer aktif, sedangkan Ukraina hanya memiliki 196.000 pasukan. Ini belum termasuk angkatan laut Rusia yang memiliki 74 kapal perang dan 51 kapal selam, sedangkan Ukraina hanya memiliki 2 kapal perang dan tidak memiliki kapal selam sama sekali. 

Kedua, Putin tahu bahwa NATO tak akan berani mempertaruhkan pasukannya hanya untuk membantu Ukraina. Yang ketiga, Putin yakin ketergantungan Eropa pada minyak dan gas akan membuat negara-negara Eropa ragu untuk menjatuhkan sanksi berkepanjangan.

Dengan menggunakan pertimbangan itu, rencana Putin hanyalah ingin melumpuhkan pertahanan Ukraina dengan cepat, menjatuhkan rezim Zelensky dan mendirikan rezim boneka di Kiev. 

Namun pertimbangan Putin luput pada satu hal; seberapa lama ia dapat mengendalikan politik Ukraina?  Rusia mungkin akan menang secara militer melalui superioritas pasukannya, namun Rusia tidak akan mampu mempertahankan kendalinya di Ukraina dalam jangka waktu yang lama. Meskipun Putin mengganti presiden Ukraina yang pro-Rusia, cepat atau lambat upaya itu akan diakhiri dengan revolusi lagi dan lagi. 

Putin tidak berkaca pada sejarah invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada tahun 1979, yang mana Uni Soviet berhasil menduduki Afghanistan dan mengendalikan pemerintahannya. Namun kejayaan itu hanya bertahan selama 11 tahun sebelum tentara Soviet terusir dari tanah Afghanistan karena gejolak revolusi dari pemberontak mujahidin yang didukung kekuatan barat. Skenario ini sangat mungkin terulang bila Putin berhasil mengendalikan politik Ukraina.

Dalam konteks Ukraina sendiri, semakin hari semakin jelas bahwa pertaruhan Putin telah gagal. Tak disangka rakyat Ukraina melawan. Strategi blitzkrieg ala Putin tidak berhasil dan selama 4 minggu lebih militer Rusia dibuat kesulitan oleh pertahanan Ukraina.

Secara historis bangsa Ukraina merupakan bangsa yang besar. Mereka tak ingin lagi diperintah oleh aktor eksternal, termasuk Rusia. Perlu diketahui pula bahwa Ukraina telah melewati dua fase revolusi pasca perang dingin: Orange Revolution pada tahun 2004 dan Revolution of Dignity pada tahun 2014. Pengalaman ini mungkin membantu menjelaskan mengapa sejumlah besar rakyat Ukraina memilih untuk menjadi sukarelawan mengangkat senjata demi mempertahankan negaranya. 

Hal lain yang juga luput dari pertimbangan awal Putin yaitu adanya solidaritas internasional. Kendati tidak membantu Ukraina secara langsung, bantuan persenjataan dari anggota NATO dan hampir semua negara Eropa, termasuk Swiss dan Swedia, juga sangat membantu pertahanan Ukraina.

Tekanan Internasional pun muncul di kala NATO melakukan persis yang menjadi mimpi buruk Putin; yaitu menambah jumlah pasukan dan persenjataan ke negara-negara Eropa timur yang berbatasan dengan Rusia.

Ancaman Revolusi Dalam Negeri

Tatkala dipusingkan dengan perlawanan Ukraina dan tekanan internasional, Vladimir Putin juga mendapat tekanan dari rakyatnya sendiri. Slogan ‘нет войне’ yang berarti “No to War” membanjiri jalanan di 74 kota di Rusia, termasuk Moskow dan St. Petersburg. Melalui slogan ini, rakyat Rusia berdemonstrasi menentang invasi ke Ukraina sejak awal invasinya pada 24 Februari lalu. 

Terlepas adanya hukuman hingga 15 tahun penjara bagi siapapun yang mengkritik keputusan invasi itu, hampir setiap hari rakyat Rusia turun ke jalan untuk memprotes tindakan Putin dan menuntut adanya perdamaian.

Berdasarkan media independen Rusia, OVD-Info, saat artikel ini ditulis setidaknya 13.836 orang telah ditahan oleh pihak berwenang Rusia karena mengkritik keputusan invasi Putin. 

Demonstrasi yang terjadi tidak hanya didorong karena faktor solidaritas kemanusiaan, namun juga adanya penderitaan rakyat Rusia akibat isolasi dan represi pemerintahan Putin. Sanksi ekonomi menghancurkan perekonomian Rusia. Pasar saham Rusia telah ditutup selama beberapa hari karena takut akan aksi panic selling yang bakal terjadi. Rubel sebagai mata uang Rusia telah mengalami devaluasi lebih dari 40% sejak dimulainya invasi.

Tak hanya sampai di situ, puluhan perusahaan multinasional seperti Samsung, Apple, PayPal dan Shell memberhentikan operasinya di Rusia. Belum lagi 5 bank utama Rusia sedang berada di bawah sanksi internasional. Ini sangat berpotensi menjadi suatu titik balik bagi para konglomerat Rusia yang selama ini setia terhadap rezim, akan berusaha untuk menggulingkan Putin.

Di samping itu, represi Vladimir Putin semakin diperparah dengan pemberlakuan undang-undang sensor dan pembatasan pers, termasuk memblokir Facebook dan media asing lainnya. Hari demi hari, Rusia semakin menjadi negara yang terisolasi tidak hanya secara ekonomi, melainkan juga informasi. Beberapa outlet berita di Rusia mencoba untuk tetap beroperasi, tetapi represi dari Kremlin semakin diberlakukan.

Bagaimanapun juga informasi adalah cahaya di sudut tergelap, dan Putin telah mencoba meredam cahaya itu. Kebijakan ini semakin memperjelas kediktatorannya, namun seperti yang kita ketahui sejarah telah beberapa kali membuktikan bahwa kediktatoran akan tumbang pada waktunya—dengan pola yang selalu berulang.

Sayangnya, perang ini kemungkinan akan berlangsung lama. Beberapa skenario Putin kedepan masih belum bisa diprediksi. Apa ia akan mengajukan dialog perdamaian dengan beberapa syarat?  Apa ia akan melanjutkan perang selama mungkin? Atau bahkan ia sekali lagi akan unjuk gigi dengan ‘nuklir’ sebagai kartu AS nya? Tak ada yang tahu langkah selanjutnya. Namun yang pasti, cepat atau lambat Putin akan kalah, seperti kutipan dari Gene Sharp yang mengatakan – “Dictatorship are never as strong as they think they are, and people are never as weak as they think they are.”

Bayu Saputra adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @baysaputraa

Leave a Reply

Your email address will not be published.