Rivalitas AS-Tiongkok: Implikasi Restriksi Visa bagi Diaspora Pelajar Tiongkok di AS

Ilustrasi Paspor Tiongkok dan Visa AS. Foto: Varsity

Tingginya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok membawa banyak implikasi salah satunya terhadap diaspora pelajar mahasiswa Tiongkok di AS. Dalam sejarahnya, diaspora pelajar Tiongkok merupakan salah satu mahasiswa pelajar asing terbanyak yang melakukan studi di AS dengan jumlah mencapai lebih dari 370,000 pelajar sehingga eksistensi diaspora mereka memiliki dampak yang besar terhadap masa depan Perguruan Tinggi dan Sumber Daya Manusia berkualitas di AS dan Tiongkok. Pada pertengahan tahun 2020 adanya “Proklamasi Presiden atas Penangguhan dan Larangan Masuk bagi Imigran Pelajar dan Peneliti Tertentu dari Tiongkok” yang dinyatakan oleh Presiden Donald Trump dan dilanjutkan oleh Joe Biden menjadi titik balik dari semakin merosotnya hubungan Tiongkok-Amerika Serikat (Anderson, 2021). Hal ini dilakukan oleh Donald Trump atas dasar menjaga keamanan nasional AS dari dugaan semakin banyaknya pencurian Hak Kekayaan Intelektual AS oleh Tiongkok yang sebenarnya masih belum dapat dibuktikan (Ross, 2021). Pandangan dasar negatif dari pemerintah AS atas pencurian tersebut salah satunya tertuju terhadap diaspora pelajar Tiongkok yang dianggap menjadi alat spionase dari Partai Komunis Cina (PKC) dalam mendapatkan informasi terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di AS. 

Adanya penetapan tersebut tentunya menjadi tantangan bagi setiap diaspora pelajar Tiongkok yang ada di AS karena dari tahun 2020 pemerintah AS telah melakukan pencabutan dan penolakan Visa bagi pelajar Tiongkok yang sedang dan ingin belajar di AS. Menurut laporan dari Wong dan Barnes (2020), terdapat ribuan dari pelajar dan calon pelajar Tiongkok akan terdampak dan tidak dapat melanjutkan pendidikan tingginya di AS. Hal ini dapat dilihat melalui laporan dari CNN (2020), bahwa pada Mei 2020 terdapat setidaknya 1000 pelajar Tiongkok yang tengah melakukan studi di AS telah dilarang melalui pencabutan visa dan pelarangan masuk sebagai dampak dari penetapan proklamasi tersebut. Hal tersebut juga tidak terlepas di era Presiden Joe Biden yang masih mempertahankan dan melanjutkan proklamasi presiden tersebut yang dapat diperkirakan sekitar 3-4% dari total pelajar Tiongkok akan terdampak menurut laporan dari pemerintah AS (Anderson, 2021). Pada sisi lainnya, data tersebut juga masih belum melingkupi bagi calon pelajar Tiongkok yang ingin bermigrasi dengan mengajukan permohonan Visa untuk melakukan studi di AS sehingga jangkauan dampak dari penetapan proklamasi tersebut masih belum dapat diperkirakan. 

Penulis memandang adanya penetapan tersebut sebenarnya merupakan dampak luas dari rivalitas AS dengan Tiongkok yang tidak hanya membawa implikasi buruk bagi diaspora pelajar Tiongkok, tetapi juga membawa dampak yang lebih merugikan bagi AS kedepannya. Merujuk pada argumen dari teori Human Capital yang memandang pentingnya migrasi sebagai investasi SDM manusia dari pendidikan sebagai modal dari meningkatnya kapabilitas ekonomi suatu negara, adanya restriksi dan pencabutan visa bagi pelajar Tiongkok yang sedang dan akan berstudi di AS akan merugikan bagi ekonomi dan SDM AS (Kooiman et al. 2018). Hal tersebut disebabkan terdapat perkiraan sekitar 70% dari total pelajar internasional yang menempuh studi pada bidang ilmu teknik berasal dari Tiongkok dan India sehingga mereka memiliki potensi sebagai SDM yang berkualitas khususnya dalam bidang inovasi teknologi di AS (Anderson, 2021). Menurut Hua (2021), penolakan terhadap pelajar Tiongkok tersebut akan mengecilkan potensi bakat pekerja masa depan dari AS dan membahayakan bagi kemajuan inovasi teknologi dari AS. 

Terlebih lagi, banyaknya pelajar yang berasal dari Tiongkok juga berkontribusi bagi kelangsungan ekonomi dan produktivitas bagi universitas-universitas di AS. Menurut Cooper dan Sacks (2018), subsidi yang diberikan oleh pelajar dari Tiongkok menjadi bantuan besar bagi kemakmuran Perguruan Tinggi AS. Berdasarkan laporan dari Fairman (2020), hal ini dapat dilihat bahwa Perguruan Tinggi di AS telah memperoleh 14 miliar USD setiap tahunnya dari 300,000 pelajar Tiongkok yang telah membayar uang sekolah secara penuh. Oleh karena itu, adanya pelarangan dan pencabutan visa terhadap pelajar Tiongkok khususnya pelajar Tiongkok yang berada dalam program ilmu teknik akan berakibat pada hilangnya pendapatan sebesar 3.5 miliar USD bagi Perguruan Tinggi di AS. Menurut Wan (2020), keadaan tersebut juga mendorong 87% pelajar Tiongkok yang ingin menempuh studi di luar negeri untuk rekonsiderasi destinasinya jika menuju AS. Fairman (2020) juga menambahkan bahwa akibat dampak dari restriksi tersebut mendorong banyak dari universitas di AS telah mengalami krisis karena kesulitan keuangan yang didapat ketika pandemi juga sehingga mereka memiliki ketergantungan yang cukup besar bagi pelajar Tiongkok agar mampu tetap bertahan. 

Berdasarkan keprihatinan atas situasi dan kondisi tersebut, penulis memandang bahwa pelarangan pelajar Tiongkok oleh AS tidak akan menyelesaikan permasalahan dari adanya pencurian data dan Hak Kekayaan Intelektual yang terjadi di AS. Penulis beropini bahwa diaspora pelajar Tiongkok merupakan aset yang penting yang nantinya mampu menjadi investasi SDM pekerja berkualitas AS sehingga mampu meningkatkan kapabilitas kekuatan ekonomi AS. Oleh karena itu, AS perlu mengambil pendekatan yang lebih pragmatis dengan tujuan mempertahankan hubungan akademis yang baik meskipun di tengah merosotnya tensi politik dan ekonomi diantara AS-Tiongkok. Hal tersebut karena jika penolakan dan pencabutan Visa terhadap pelajar Tiongkok dilakukan semakin luas terdapat kemungkinan terjadi suatu krisis diaspora bagi Tiongkok dan krisis ekonomi bagi Perguruan Tinggi AS. 

Referensi: 

Anderson, S. (2021, 10 Agustus). Biden Keeps Costly Trump Visa Policy Denying Chinese Grad Students. Forbes News. www.forbes.com/sites/stuartanderson/2021/08/10/biden-keeps-costly-trump-visa-policy-denying-chinese-grad-students/?sh=3538098d3641

CNN. (2021, 10 Agustus). A Trump-era policy that shut out top Chinese students could be hurting America more than Beijing. www.edition.cnn.com/2021/08/06/asia/china-united-states-students-visa-ban-intl-hnk-dst/index.html

Cooper, Z. dan Sacks, S. (2018, 6 Desember). Bad Idea: Banning Chinese Students from Studying in the United States. CSIS Defense 260. www.defense360.csis.org/bad-idea-banning-chinese-students-from-studying-in-the-united-states/.

Fairman, C. (2020, 12 Juni). Banning Chinese Students Won’t Safeguard US National Security. The Diplomat. www.thediplomat.com/2020/06/banning-chinese-students-wont-safeguard-us-national-security/.

Hua, S. (2021, 2 November). Visa Restrictions on Chinese Students Endanger U.S. Innovation Edge, Universities Say. The Wall Street Journal. www.wsj.com/articles/visa-restrictions-on-chinese-students-endanger-u-s-innovation-edge-universities-say-11635856001.

Kooiman, N. et al. (2018). “Human Capital Migration: A Longitudinal Perspective”. Tijdschrift voor Economische en Sociale Geografie, Vol. 109, No. 5, pp. 644-660. 

Ross, M. (2021). “US-China Higher Education Links in Crisis: Behind the Curtain of Suspicion”. Asian Perspective, Vol. 45, No. 1, pp. 225-239.

Wan, X. (2020). “Chinese Students Wary of Studying in the United States”. Mobility Analysis, No. 101.

Wong, E. dan Barnes, J. E. (2020, 28 Mei). U.S. to Expel Chinese Graduate Students With Ties to China’s Military Schools. The New York Times. www.nytimes.com/2020/05/28/us/politics/china-hong-kong-trump-student-visas.html.

Mizanul Amal adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Airlangga. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @mizanul_amal

Leave a Reply

Your email address will not be published.