Manuver Kodifikasi Roe v. Wade, Demokrat Gagal di Senat 51-49

Pemimpin DPR AS Nancy Pelosi dalam sebuah konferesi pers tentang Women's Healthcare Act. Foto: Kevin Lamarque/Reuters

Women’s Health Protection Act, undang-undang AS yang akan menjadikan hak aborsi sebagai hukum federal, tidak berhasil diundangkan karena tidak mendapat persetujuan mayoritas Senat AS.

Berdasarkan hasil voting senator-senator AS pada Rabu (11/5), undang-undang tersebut dikalahkan oleh suara 51-49. Satu suara penolakan yang penting datang dari Senator Demokrat Joe Manchin dari West Virginia yang mengikuti suara senator Republik lainnya dalam menolak Women’s Health Protection Act.

Women’s Health Protection Act ini dicanangkan oleh Partai Demokrat setelah terjadi kebocoran dokumen Mahkamah Agung AS tentang aborsi. Dalam dokumen yang ditulis oleh Hakim Samuel Alito tersebut, Roe v, Wade disebut sebagai keputusan yang ‘sangat salah sejak awal’ dan ‘sudah seharusnya dibatalkan (overruled)’.

Padahal, putusan historis pada 1973 tersebut telah menjadi tonggak utama dalam mengatur aborsi sebagai salah satu hak perempuan. Sejak putusan tersebut, praktik aborsi secara gradual dapat semakin diakses di negara-negara bagian AS.

Tak Kunjung Dikodifikasi, Roe v. Wade Terancam Mayoritas Konservatif di Mahkamah Agung

Bocornya dokumen tersebut terutama mendorong respon yang keras dari publik dan Partai Demokrat karena kemungkinan yang besar untuk membatalkan Roe v. Wade.

Dalam kondisi saat ini, Mahkamah Agung AS sedang didominasi hakim dengan afiliasi konservatif. Hakim dengan afiliasi konservatif dan liberal memiliki proporsi 6-3. Hal ini dimungkinkan oleh Presiden Trump yang mengangkat tiga hakim selama masa jabatannya ke Mahkamah Agung.

Dengan komposisi tersebut, besar kemungkinan putusan terkait hak aborsi akan terjadi secara partisan. Dalam hal ini, Hakim John Roberts yang sering dianggap konservatif memiliki rekam jejak yang cukup liberal dalam kasus hak aborsi, sehingga akan menambah suara kontra untuk membatalkan Roe v. Wade. Meskipun begitu, kemungkinan Roe v. Wade dibatalkan masih sangat mungkin terjadi dengan putusan 5-4 oleh Mahkamah Agung AS.

Hal ini juga mungkin terjadi karena Roe v. Wade selama ini hanya menjadi putusan saja, tetapi tidak pernah dikodifikasi menjadi undang-undang. Terkait hal ini, tidak sedikit publik yang bertanya kenapa para anggota Kongres dari Partai Demokrat tidak mengesahkannya selama mereka berkuasa.

Menuver Demokrat Menjelang Pemilu Sela?

Di AS, isu aborsi merupakan isu yang sangat partisan. Persepsi terhadap hak aborsi merupakan salah satu pemecah publik AS antara pemilih Partai Demokrat yang mayoritas pro-aborsi (pro-choice) dengan pemilih Partai Republik yang anti-aborsi (pro-life).

Dengan kondisi Senat sekarang, sejumlah pihak telah memperkirakan bahwa Women’s Health Protection Act tidak akan lolos di Senat. Bahkan tanpa perpindahan suara Senator Manchin pun, UU tersebut tetap akan tidak lolos karena minimal suara yang dibutuhkan adalah 60-40.

Meskipun Senator Manchin menyatakan akan menolak undang-undang yang disponsori oleh partainya sendiri, pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer tetap melaksanakan voting untuk “merekam jejak sejarah senator Republikan.”

“Setiap warga AS akan tahu bagaimana mereka (51 senator yang menolak pengesahan UU) memilih,” ujar Schumer. “Dan aku percaya bahwa partai Republik, partai MAGA Republik, akan merasakan konsekuensinya ketika warga AS melihatnya,” tambahnya.

Di sisi lain, kekompakan Partai Demokrat dalam menggaungkan pembelaan terhadap Roe v. Wade ini tidak muncul dalam keadaan kosong. Perlu diketahui, bahwa pada November 2022 nanti akan diadakan Pemilu Sela (midterm election).

Dalam Pemilu Sela, biasanya pihak yang berkuasa akan kehilangan kekuasaan di DPR, Senat, atau bahkan keduanya. Tendensi tersebut biasa muncul dalam perpolitikan AS sebagai usaha untuk menyeimbangkan cabang-cabang yang berbeda dalam pemerintahan.

Dengan approval rating Presiden Biden yang tidak begitu baik, janji-janji yang belum selesai, dan basis pemilih yang tidak termotivasi, Pemilu Sela ini menjadi ancaman yang serius bagi Demokrat.

Isu aborsi adalah satu dari sedikit hal yang dapat membangkitkan semangat basis pemilih Demokrat. Oleh karena itu, banyak pihak yang menduga bahwa manuver Demokrat ini juga berkaitan dengan prospek kesuksesannya di Pemilu Sela pada November nanti.

Pada akhirnya, Roe v. Wade kini sedang berada dalam ancaman serius. Prospek pembatalan putusan tersebut oleh Mahkamah Agung AS sangat nyata dan dapat terjadi kapan saja. Demokrat berusaha membela Roe v. Wade, terlebih lagi dalam konteks Pemilu Sela 2022. Akan tetapi, tidak banyak yang dapat dilakukannya, sebab putusan tersebut tetap tergantung kepada hakim-hakim di Mahkamah Agung AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published.