Menerka Postur Iran Dibawah Presiden Garis Keras Baru Ebrahim Raisi

Illustrasi Presiden Baru Iran, Ebrahim Raisi. Foto: Ebrahim Noroozi/AP Photo

Sudah seminggu sejak Presiden Iran Ebrahim Raisi dilantik pada Jumat (13/08) namun dunia masih khawatir mengenai ke mana ia akan membawa Iran dalam empat tahun ke depan.

Kekhawatiran tersebut muncul karena Raisi, berbeda dari presiden sebelumnya Hassan Rouhani yang moderat, berasal dari faksi garis keras Iran yang sangat anti-Barat serta mendapatkan dukungan dari Imam Besar Iran Ali Khamenei dan Garda Revolusi, organisasi paramiliter Iran yang dilabeli sebagai “teroris” oleh AS.

Kondisi di sekeliling Pemilu yang dimenangkan Raisi juga sangat kontroversial. Dikutip dari CNN, Pilpres Iran 2021 merupakan pilpres dengan keikutsertaan pemilih terendah sepanjang sejarah Iran, yaitu hanya 48,48% dari daftar pemilih tetap.

Selain itu, pencalonan berbagai capres populer beraliran moderat juga dianulir oleh Dewan Perwalian Iran yang diisi oleh ulama-ulama garis keras pro-Imam Besar, memuluskan jalan Raisi untuk terpilih di dalam pemilu.

Padahal, di balik kontroversi pelantikan mantan Hakim Agung Iran berusia 60 tahun tersebut sebagai presiden, Iran sedang menghadapi masalah besar di dalam dan di luar negeri.

Di dalam Iran sendiri, ekonomi nasional semakin tergoyah akibat COVID-19 dan makin memperburuk dampak sanksi AS setelah negara adidaya tersebut keluar dari JCPOA pada masa pemerintahan Donald Trump.

Secara internasional, Iran pun semakin dilihat sebagai ancaman oleh negara Timur Tengah di sekelilingnya karena penerjunan Garda Revolusi di berbagai konflik Timur Tengah, dugaan provokasi maritim, dan isu nuklir.

Tidak mengherankan jika naiknya Raisi yang anti-Barat dan cenderung pro-kebijakan luar negeri yang agresif menjadi momok di kawasan Timur Tengah dan berpotensi memicu instabilitas kawasan.

Namun, di dalam pidato pelantikannya, Raisi menyatakan akan “mendukung berbagai rencana diplomatik” untuk mendorong AS mengangkat sanksi ekonominya kepada Iran.

Ia juga menyebut bahwa program nuklir negaranya ditunjukkan untuk “perdamaian” dan menyatakan bahwa Iran “menolak penggunaan nuklir selain untuk tujuan sipil.” Bahkan, ia juga mengklaim bahwa kehadiran Iran di Timur Tengah adalah untuk “menciptakan keamanan” dan Iran akan menyambungkan “tali persahabatan dan persaudaraan” kepada negara-negara tetangganya.

Hal yang mengejutkan adalah Raisi berharap bahwa ia ingin melakukan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi, termasuk dengan membuka kembali hubungan diplomatik yang sudah terputus sejak 2016.

Melihat pernyataannya, Ebrahim Raisi memberikan harapan besar bagi perdamaian kawasan Timur Tengah yang telah diimpikan negara-negara di kawasan tersebut sejak lama. Namun, apabila melihat latar belakang politiknya yang pro terhadap pihak-pihak yang agresif di Timur Tengah, banyak yang khawatir bahwa ucapannya hanya janji palsu semata. 

Apapun itu, postur kebijakan luar negeri yang akan diambil oleh Raisi jelas akan memengaruhi keseimbangan di Timur Tengah, hingga dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.