Meninjau Kontribusi Indonesia dalam Upaya Kemanusiaan di Gaza

0

Upaya Multilateral Indonesia untuk Masalah Kemanusiaan di Gaza/Grid.id

Konflik internasional sering terjadi di berbagai negara di dunia. Salah satu konflik internasional yang hingga kini masih berlangsung adalah konflik Israel-Palestina. Konflik Israel-Palestina merupakan konflik yang berlangsung wilayah Timur Tengah. Konflik ini telah merambah ke dunia internasional dan menjadi perbincangan hangat di dunia internasional. Banyak sekali media internasional yang menyoroti konflik ini. Tidak hanya sebagai suatu berita agar seluruh dunia tahu bahwa saat ini Israel-Palestina sedang konflik, tetapi agar lebih banyak pihak yang memberi solusi (Achmad dan Nurdiansyah, 2010). Menurut Barry Colfer, Broto Wardoyo dan Nostalgiawan Wahyudi dalam acara “Building Bridges: Indonesia and Ireland Perspectives on the War in Gaza” (“Ireland and Indonesia Virtual Public Discussion”), menyatakan bahwa situasi konflik Israel-Palestina ini harus dari dilihat dari sudut politik dan bukan mengenai persoalan perbedaan agama.

Konflik ini baru terjadi lagi pada 7 Oktober 2023 dan sampai saat ini masih terus berlangsung. Pihak Israel mengklaim sekitar 3.100 roket telah ditembakkan dalam sepekan terakhir dari Gaza. Sistem anti rudal Iron Dome milik Israel telah mencegat lebih dari 1.000 roket. Sampai saat ini, konflik masih terus berlangsung. Terbaru, terhitung sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban yang terbunuh di Gaza telah mencapai 34.971 dan 78.641 telah mengalami luka-luka. 

Indonesia dan Upaya Perdamaian di PBB

Konflik yang menjadi peperangan ini tentunya menjadi perhatian bagi Persatuan Bangsa-Bangsa (“PBB”) dan negara yang bergabung di dalamnya. Sebagai catatan,  perlu diketahui bahwa Israel diterima sebagai anggota PBB dan Palestina sebagai negara pengamat non-anggota di PBB. Untuk itu, PBB memiliki wewenang untuk mendamaikan kedua negara ini. PBB sebagai organisasi internasional memiliki tugas untuk menjaga keamanan dan perdamaian negara-negara di dunia. Sejak 1947, PBB telah berperan sebagai mediator yang berusaha untuk memediasi kepentingan antara Palestina dan Israel.

Dalam konteks tersebut, Indonesia mengambil peran strategis dalam forum kerja sama dengan masyarakat internasional seperti PBB, Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa dan negara-negara Arab lainnya seperti Mesir, Arab Saudi dan Yordania. Selain itu, Indonesia juga berperan sebagai mediator yang memainkan peran penting guna menyeimbangkan dan meredakan konflik Israel-Palestina dalam kancah bilateral, regional dan multilateral. Broto Wardoyo, dalam acara Ireland and Indonesia Virtual Public Discussion, menyarankan Indonesia dapat memberikan dampak yang lebih besar dengan membangun jalur komunikasi yang kuat dan fokus pada upaya kemanusiaan di Gaza. Selain itu, terdapat pendapat lain dari Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Ia “mendorong agar pemerintah Indonesia menyampaikan kepada pihak-pihak yang berkonflik serta mengimbau negara-negara besar untuk menahan diri dalam menyampaikan komentar atau dukungan kepada salah satu pihak yang justru mengeskalasi perang. Negara-negara di dunia mempunyai kewajiban untuk melindungi rakyat sipil dari penggunaan senjata”.

Indonesia dan Upaya Perdamaian Multilateral Lainnya

Pada sidang Sidang Majelis Umum ke-78 PBB di New York yang digelar pada 19 September 2023, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, telah menegaskan komitmen Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina dalam pidatonya. Pidato ini secara langsung memperlihatkan komitmen dukungan perdamaian yang diberikan Indonesia atas hak kemerdekaan Palestina dan penyelesaian konflik Israel-Palestina. Tidak hanya pada forum PBB, Indonesia juga memperjuangkan Palestina di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). OKI menjadi salah satu forum yang digunakan Indonesia untuk menyuarakan dukungan kepada rakyat Palestina. Indonesia sendiri adalah anggota Committee on Al-Quds (Yerusalem) OKI yang dibentuk pada 1975. Pada 25 April 2022, atas inisiatif Indonesia, diselenggarakan Open-ended Extraordinary Meeting of the OIC Executive Committee at the level of Permanent Representatives di Markas OKI, Jeddah. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menanggapi kekerasan yang dilakukan pemukim dan aparat Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa, pada Ramadhan 2022.

Kemudian, pada 22 September 2022, di sela-sela Sidang ke-77 Majelis Umum PBB, diselenggarakan Annual Coordination Meeting OKI pada tingkat menlu. Menlu Indonesia hadir dalam pertemuan ini dan menyampaikan desakan agar OKI dorong dicapainya breakthrough dalam proses perdamaian. Selain pada kedua forum itu, Indonesia juga mengajak negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) dan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) melalui jalur diplomasi untuk terus peduli dan memperhatikan konflik yang terjadi. Lebih lanjut, Indonesia mendorong negara-negara anggota tersebut untuk melakukan hal-hal yang secara nyata dapat membantu perdamaian dan menghentikan konflik yang terjadi di Israel-Palestina. 

Kemudian, baru-baru ini, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) GNB ke-19 di Kampala, Uganda yang diselenggarakan pada 19 hingga 20 Januari 2024, Indonesia kembali menegaskan posisinya terkait Palestina. Indonesia, selain mendesak GNB agar bersatu mengupayakan gencatan senjata di Gaza, juga mendorong proses perdamaian Palestina untuk dihidupkan kembali. Indonesia mendorong agar GNB mengupayakan keanggotaan penuh Palestina di PBB. Selain di GNB, Indonesia juga selalu konsisten menyuarakan hak-hak rakyat Palestina di forum PBB pada tahun 2024 ini, seperti yang dilakukan Menlu RI di forum Debat Terbuka Dewan Kemanan PBB pada 23 Januari 2024 lalu. Posisi Indonesia terkait Palestina tegas, yaitu mendorong berdirinya negara Palestina yang merdeka, demokratis, sejahtera, dan hidup berdampingan secara damai dengan Israel di bawah prinsip “solusi dua negara” (two state solution) (Simela, 2024).

Selain diplomasi dan mediasi, Indonesia juga banyak memberikan bantuan kemanusian kepada Palestina yang terkena dampak konflik. Bantuan kemanusiaan dalam hal pangan seperti beras, gandum, obat-obatan, dan peralatan medis yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Palestina. Kemudian, bantuan lainnya juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang seringkali menghadapi kesulitan akses ke makanan dan layanan kesehatan. Oleh karena itu, Indonesia memberikan bantuan untuk pembangunan infrastruktur penting di Palestina, seperti membangun atau merekonstruksi rumah sakit, sekolah, pusat kesehatan, dan fasilitas umum lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Palestina (Juntami, 2023). Upaya di berbagai organisasi internasional dan bantuan ini menjadi wujud dari diplomasi proaktif Indonesia dalam mendukung perdamaian Israel-Palestina, khususnya menghentikan agresi Israel di jalur Gaza.

Daftar Pustaka

Achmad Herman dan Jimmy Nurdiansa, “Analisis Framing Pemberitaan Konflik Israel-Palestina dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng”, Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 8, No. 2 (2010), hlm. 156. 

Aulia Pengdaviera Juntami, “Pancasila and Peace: Peran Indonesia dalam Mediasi Konflik Israel-Palestina; Implementasi Pancasila pada Diplomasi Perdamaian Dunia”, Jurnal Diplomasi Pertahanan, Vol. 9, No. 3 (2023), hlm. 26-30. 

Muhammad, S.V. (2024). Konflik Gaza dan Diplomasi Indonesia Terkait Palestina. Info Singkat, 16(2), 34

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *