Ilustrasi perjanjian dagang antara Tiongkok dan Selandia Baru. Foto: FPCI UPH

Dorongan yang lebih kuat pada kemitraan atau partnership bilateral Tiongkok-Selandia Baru akhirnya dijalankan seiring dengan pemulihan ekonomi mereka dari pandemi. Pada hari Selasa, 26 Januari, kedua negara ini menandatangani peningkatan protokol dari perjanjian perdagangan bebas mereka yang menyatakan komitmen memasuki pasar perdagangan yang lebih luas dan lebih dalam, dan pada sistem perdagangan terbuka dan berbasis aturan.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyebutkan bagaimana Selandia Baru telah mencatat keberhasilan yang luar biasa bagi kedua belah pihak dari perjanjian perdagangan bebas bilateral mereka yang ditandatangani pada tahun 2008. Ia juga menyebutkan bahwa keputusan memperpanjang serta meningkatkan FTA mereka secara signifikan itu dimaksudkan untuk memastikan perjanjian agar tetap sesuai dengan tujuan dalam lingkungan perdagangan saat ini.

Dengan peningkatan tersebut, kedua negara itu kini menikmati tarif nol pada perdagangan bilateral mereka dengan beberapa pengecualian. Kesepakatan itu mencakup penghapusan tarif atas kayu dan produk kertas yang menghasilkan perdagangan yang lebih mudah dan lebih hemat biaya. Selain itu, pada tahun 2024, tarif dari semua ekspor produk susu Selandia Baru ke Tiongkok akan ditiadakan, dan bea ekspor lainnya termasuk pada kayu dan makanan laut juga akan diturunkan. Lalu, ruang lingkup industri yang dapat diikuti oleh investor Tiongkok kini telah diperluas termasuk pada layanan jasa seperti pemasaran, sumber daya manusia, dan pariwisata di Selandia Baru.

Tiongkok saat ini masih menjadi mitra dagang terbesar bagi Selandia Baruyang mana satu dari empat warganya memiliki pekerjaan yang bergantung pada ekspor. Perdagangan yang lebih kuat menjadi sangat penting untuk pemulihan ekonomi mereka karena hal itu telah menjadi pendorong utama pertumbuhan, kemakmuran, dan pembukaan lapangan kerja. “Menandatangani peningkatan protokol perjanjian menunjukkan bahwa Tiongkok sedang mengambil tindakan nyata untuk mempraktikkan multilateralisme dan membangun ekonomi dunia terbuka, dan ini merupakan langkah penting dalam strategi kami untuk menerapkan zona perdagangan bebas,” kata Menteri Perdagangan Tiongkok.

Di sisi lain, saat pemerintah Tiongkok meningkatkan perjanjian perdagangan bebasnya dengan Selandia Baru, hubungannya dengan Australia nyatanya tetap beku. Selandia Baru mengklaim telah memberi contoh untuk Australia agar memperkuat hubungan perdagangan bilateral dengan Tiongkok melalui pernyataan, “Australia harus menunjukkan rasa hormat kepada Tiongkok”. Sementara itu bagi Australia, hubungannya dengan Tiongkok hanya menjadi urusan mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *